Satu orang keluar modal, satu orang lagi ngurus bisnis dari pagi sampai malam.
Terus pembagian untungnya langsung ditentukan: 60% buat pemodal, 40% buat pengelola. Atau malah dibalik.
Masalahnya, angka itu datang dari mana?
Banyak partneran mulai dari menentukan persentase, padahal peran, risiko, dan tanggung jawabnya belum dihitung dengan jelas. Selama bisnis masih lancar, pembagian asal tebak mungkin kelihatan aman. Begitu hasilnya nggak sesuai harapan, barulah muncul kalimat:
“Gue yang keluar uang paling banyak.”
“Tapi gue yang kerja tiap hari.”
Dari sini, konflik biasanya mulai jalan.
Modal dan kerja sama-sama punya nilai
Pemodal menaruh uangnya di bisnis dan menanggung risiko kalau usahanya gagal. Tanpa modal tersebut, bisa jadi bisnisnya memang nggak bisa dimulai.
Tapi pengelola juga memberikan sesuatu yang nilainya nyata: waktu, tenaga, keahlian, relasi, dan fokus. Dia yang cari supplier, mengurus tim, menangani customer, membaca laporan, dan menyelesaikan masalah setiap hari.
Karena bentuk kontribusinya berbeda, keduanya nggak bisa dibandingkan hanya dengan kalimat, “Siapa yang keluar paling banyak?”
Sebelum menentukan pembagian, pisahkan dulu beberapa hal yang sering tercampur.
1. Modal yang benar-benar masuk berapa?
Catat nilai modal yang disetor masing-masing pihak, kapan masuknya, dan dipakai untuk apa.
Jangan cuma mencatat uang tunai. Aset seperti kendaraan, mesin, tempat usaha, stok, atau software juga bisa menjadi kontribusi modal selama nilainya disepakati bersama.
Tentukan juga statusnya:
– modal kepemilikan;
– pinjaman yang harus dikembalikan;
– atau aset yang cuma dipinjamkan.
Kalau status ini nggak jelas, satu pihak bisa merasa sudah berinvestasi, sementara pihak lain menganggap uangnya cuma utang usaha.
2. Siapa yang benar-benar kerja setiap hari?
Jabatan “pengelola” saja belum cukup. Tulis pekerjaan nyatanya.
Siapa yang menangani operasional? Siapa yang bertanggung jawab mencari penjualan? Siapa yang mengurus keuangan? Berapa banyak waktu yang dihabiskan? Apakah dia bekerja penuh waktu atau cuma membantu sesekali?
Kerja harian sebaiknya dihitung sebagai pekerjaan, bukan dianggap otomatis lunas lewat status “partner”.
Kalau perannya berubah, kompensasinya juga perlu dibahas ulang.
3. Pengelola digaji atau cuma menunggu bagi hasil?
Ini salah satu bagian yang paling sering bikin ribut.
Gaji dan bagi hasil itu beda.
Gaji merupakan bayaran untuk pekerjaan yang dilakukan. Sementara bagi hasil berasal dari keuntungan bisnis setelah seluruh biaya dihitung.
Kalau pengelola bekerja penuh waktu tetapi nggak menerima gaji, berarti secara nggak langsung dia ikut menanam modal dalam bentuk tenaga dan penghasilan yang dikorbankan. Hal ini harus masuk ke perhitungan, bukan dianggap gratis.
Kalau bisnisnya belum mampu membayar gaji penuh, bisa dibuat kesepakatan lain. Misalnya, sebagian gaji dibayar sekarang dan sisanya dicatat sebagai kewajiban bisnis. Yang penting, nilainya jelas dan semua pihak setuju.
4. Kalau bisnis rugi, siapa yang nanggung?
Orang biasanya semangat membahas pembagian untung, tetapi lupa membicarakan kerugian.
Padahal justru bagian ini yang perlu dibereskan sebelum bisnis dimulai.
Kalau ada kerugian, apakah pemodal kehilangan sebagian modalnya? Apakah pengelola kehilangan bonus, gaji, atau waktu yang sudah dikeluarkan? Kalau bisnis perlu tambahan dana, apakah semua partner wajib menyetor lagi?
Bedakan juga kerugian normal dengan kerugian akibat kelalaian.
Bisnis rugi karena pasar berubah tentu berbeda dengan uang hilang karena salah satu partner memakai kas tanpa persetujuan.
Jangan membagi omzet
Yang dibagi bukan uang yang baru masuk dari customer. Yang dibagi adalah laba bersih setelah biaya bisnis dibereskan.
Sebelum pembagian, kurangi dulu:
– modal barang;
– iklan;
– gaji;
– operasional;
– pajak dan biaya transaksi;
– retur atau kerusakan;
– kewajiban bisnis;
– dana cadangan dan kebutuhan modal kerja.
Omzet besar belum tentu berarti uangnya aman dibagikan. Kalau semua kas dikeluarkan sebagai “untung”, bulan berikutnya bisnis bisa kesulitan membeli stok atau membayar operasional.
Jadi, pemodal atau pengelola yang dapat lebih besar?
Nggak ada satu angka yang cocok untuk semua bisnis.
Pemodal bisa mendapat bagian lebih besar kalau modal dan risiko finansialnya memang dominan, sementara pengelola sudah menerima gaji yang layak.
Pengelola juga bisa mendapat bagian lebih besar kalau bisnis sangat bergantung pada keahlian, waktu, dan eksekusinya—terutama kalau dia belum menerima kompensasi penuh.
Bisa juga pembagiannya sama rata jika kontribusi, risiko, dan tanggung jawabnya dinilai seimbang.
Yang penting, persentasenya keluar dari perhitungan dan kesepakatan. Bukan dari siapa yang paling keras bicara saat rapat.
Tulis semuanya sejak awal
Kesepakatan partneran jangan cuma disimpan di chat atau berdasarkan rasa saling percaya.
Tulis dengan jelas:
– jumlah dan status modal;
– kepemilikan masing-masing pihak;
– tugas dan wewenang;
– gaji atau kompensasi kerja;
– cara menghitung laba bersih;
– jadwal pembagian keuntungan;
– tanggung jawab saat rugi;
– keputusan yang harus disetujui bersama;
– aturan kalau salah satu partner ingin keluar.
Dokumen tertulis bukan tanda kita nggak percaya partner. Justru itu cara menjaga hubungan supaya ingatan dan ekspektasi nggak berubah saat uang mulai terlibat.
Partneran yang sehat bukan soal menemukan angka 60:40 yang kelihatan adil.
Yang lebih penting adalah memastikan semua orang paham: siapa memberikan apa, siapa mengerjakan apa, siapa menanggung apa, dan uang mana yang memang sudah aman untuk dibagi.




