Iklan Direm, Bisnis Ikut Mati? Berarti Kita Masih Nyewa Traffic

Iklan Direm, Bisnis Ikut Mati? Berarti Kita Masih Nyewa Traffic

Coba bayangin iklan dimatiin selama seminggu.

Order masih masuk? Customer lama masih balik beli? Orang masih nyari nama brand kita? Atau penjualan langsung ikut berhenti?

Kalau bisnis langsung sepi saat iklan direm, masalahnya bukan berarti iklan itu buruk. Bisa jadi selama ini kita cuma nyewa traffic, tetapi belum benar-benar membangun sumber penjualan sendiri.

Ads tetap penting, tapi jangan jadi satu-satunya napas

Iklan berbayar memang salah satu cara tercepat buat menjangkau pasar dan mendapatkan customer baru. Selama angkanya masih sehat, nggak ada alasan buat buru-buru mematikannya.

Masalah muncul ketika seluruh penjualan bergantung pada budget iklan.

Budget turun, traffic turun.
Traffic turun, order ikut hilang.
Begitu biaya iklan naik, margin langsung tertekan.

Akhirnya bisnis terus membayar untuk mendapatkan perhatian, termasuk dari orang-orang yang sebenarnya pernah membeli.

Jadi, targetnya bukan membuat bisnis berhenti beriklan. Targetnya adalah memastikan iklan nggak bekerja sendirian.

Jangan berhenti di order pertama

Customer pertama yang masuk dari iklan memang belum tentu langsung menghasilkan profit besar. Ada biaya iklan, operasional, admin, packing, sampai risiko retur.

Nilai sebenarnya baru terasa kalau customer tersebut bisa:

– balik membeli tanpa harus dikejar lewat iklan dari awal;
– masuk ke database yang bisa dihubungi lagi;
– merekomendasikan produk ke orang lain;
– mengingat dan mencari nama brand kita sendiri.

Kalau hubungan dengan customer selesai setelah paket dikirim, setiap order berikutnya harus dicari lagi dari nol. Kita kembali membayar platform untuk mendapatkan orang baru.

Karena itu, jangan cuma mengukur berapa banyak order pertama yang masuk. Perhatikan juga apa yang terjadi setelahnya.

Bangun aset dari setiap customer yang datang

Setidaknya ada tiga sumber tenaga yang bisa mulai dibangun.

1. Database customer

Simpan data customer dengan rapi dan atas persetujuan mereka. Bukan untuk mengirim promosi setiap hari, tetapi supaya kita masih punya jalur komunikasi setelah transaksi selesai.

Database tersebut bisa digunakan untuk mengabarkan restock, varian baru, produk pelengkap, atau penawaran yang memang relevan.

2. Repeat order

Customer nggak akan balik cuma karena pernah membeli. Mereka perlu alasan.

Produknya harus memuaskan, pengalaman belinya enak, komplain ditangani dengan baik, dan kita hadir lagi pada waktu yang tepat. Kalau produknya bukan tipe yang cepat habis, tawarkan produk pelengkap atau kebutuhan berikutnya—bukan memaksa pembelian yang sama.

3. Pencarian brand

Orang yang ingat nama brand punya peluang datang kembali tanpa selalu melewati iklan.

Karena itu, identitas brand harus konsisten dan mudah diingat. Nama, kemasan, pengalaman belanja, isi konten, dan kualitas produk perlu memberi alasan supaya orang nggak cuma ingat barangnya, tetapi juga ingat siapa yang menjualnya.

Kapan budget iklan boleh direm?

Jangan memotong budget hanya karena ingin terlihat lebih “organik”. Rem iklan berdasarkan data, bukan perasaan.

Periksa dulu:

– apakah biaya mendapatkan customer masih masuk akal;
– apakah margin setelah biaya iklan masih sehat;
– berapa banyak customer yang melakukan pembelian ulang;
– seberapa besar penjualan dari database dan pencarian brand;
– apakah bisnis masih berjalan ketika iklan diturunkan secara bertahap.

Kalau mayoritas order masih datang dari paid traffic, memotong iklan secara mendadak bisa membuat penjualan jatuh sebelum sumber lain siap.

Lebih aman mengurangi ketergantungan sedikit demi sedikit sambil memperkuat repeat order, database, pelayanan, dan brand.

Iklan seharusnya memperbesar bisnis, bukan menopangnya sendirian

Bisnis yang sehat bukan bisnis yang anti-iklan. Justru iklan tetap bisa menjadi mesin utama untuk menjangkau customer baru.

Bedanya, customer yang sudah masuk nggak dibiarkan lewat begitu saja.
Order pertama diubah menjadi hubungan. Hubungan menghasilkan pembelian ulang. Pengalaman yang bagus membuat brand diingat. Pelan-pelan, bisnis mulai punya sumber permintaan yang benar-benar dibangun sendiri.

Jadi pertanyaannya bukan, “Kapan iklan harus dimatikan?”

Pertanyaannya:

Kalau iklan direm selama seminggu, bisnis kita masih punya tenaga buat jalan?

Leave a Reply

© 2018 - Loops.id