Gonta-ganti Produk, Kok Bisnis Mulai dari Nol Terus?

Gonta-ganti Produk, Kok Bisnis Mulai dari Nol Terus?


Gonta-ganti Produk, Kok Bisnis Mulai dari Nol Terus?

Hari ini jual gamis. Belum dapat pola yang enak, lihat temen rame jual skincare. Ikut pindah. Baru belajar sedikit, muncul alat dapur yang lagi viral. Tertarik lagi.

Kelihatannya kita rajin cari peluang. Tapi setelah beberapa kali pindah, kok yang nambah malah stok, kerjaan, dan rasa capek?

Bisa jadi masalahnya bukan karena kurang usaha. Kita terlalu sering pindah pasar sebelum sempat ngerti pembelinya.

Ganti produk itu boleh. Tapi ganti produk dan ganti pasar bukan hal yang sama.

Tiap Pindah Pasar, Ada yang Harus Dipelajari Lagi

Waktu mulai jualan, kita bukan cuma belajar soal barang. Kita juga belajar siapa yang butuh, apa yang bikin mereka tertarik, dan apa yang bikin mereka ragu.

Pembeli gamis mungkin banyak tanya soal bahan, ukuran, dan kenyamanan. Pembeli skincare punya pertimbangan lain: cocok nggak buat kulitnya, kandungannya apa, dan cara pakainya gimana.

Begitu pindah ke alat dapur, pertanyaannya berubah lagi.

Artinya, banyak hal harus disesuaikan:
– Konten dan foto produk.
– Cara menjelaskan manfaat.
– Penawaran yang masuk akal.
– Jawaban CS.
– Cara menangani keluhan.

Pengalaman sebelumnya nggak otomatis hilang. Tapi belum tentu semuanya bisa langsung dipakai di pasar baru.

Kalau perpindahan ini terlalu sering, kita sibuk belajar bagian awal terus. Belum sempat ngerti satu pasar, sudah pindah ke pasar berikutnya.

Pelanggan Lama Belum Tentu Ikut Pindah

Kita sudah keluar biaya dan tenaga buat dapat pembeli. Sudah bangun kepercayaan, layani pertanyaan, dan kirim pesanan.

Sayangnya, saat jualan baru beda jauh dari sebelumnya, pelanggan lama belum tentu tertarik.

Orang yang beli gamis dari kita nggak otomatis butuh alat dapur yang sekarang kita tawarkan. Bisa saja tertarik, tapi jangan dianggap pasti.

Akhirnya, daftar pelanggan sudah ada, tetapi setiap jual produk baru kita tetap harus mencari pembeli lain.

Punya banyak kontak belum tentu sama dengan punya pasar yang bisa terus dilayani.

Coba Ganti Produk, Tanpa Langsung Ganti Pasar

Bayangin kita fokus di kebutuhan orang yang suka bersepeda.

Awalnya jual lampu sepeda. Setelah mulai ngerti pembelinya, kita bisa coba pompa, tas sepeda, atau perlengkapan lain yang masih relevan.

Produknya berubah, tapi orang yang dilayani masih punya kebutuhan yang berhubungan.

Di sini, pengetahuan kita bisa terus dipakai. Kita mulai tahu pertanyaan yang sering muncul, penggunaan produknya, dan hal yang paling diperhatikan pembeli.

Konten juga lebih nyambung. Akun kita nggak mendadak berubah dari bahas pakaian ke skincare, lalu ke peralatan masak.

Bukan berarti semua produk dalam satu niche pasti laku. Tetap perlu diuji. Bedanya, kita nggak selalu berangkat dari nol dalam memahami pasarnya.

Sebelum Banting Setir, Cek Apa yang Sebenarnya Macet

Produk belum laku bukan otomatis berarti pasarnya jelek. Tapi bukan berarti kita harus bertahan mati-matian juga.

Sebelum pindah, coba pisahkan masalahnya.

1. Produknya Kurang Cocok?

Apakah barangnya benar-benar membantu pembeli? Ada keluhan yang berulang? Kualitasnya sesuai dengan yang dijanjikan?

Kalau produknya memang bermasalah, mempercantik iklan saja nggak cukup. Bisa jadi kita perlu memperbaiki atau mengganti produk, tetap untuk pasar yang sama.

2. Penawarannya Belum Jelas?

Pembeli sudah ngerti barangnya, tapi belum melihat alasan buat memilih kita.

Coba cek apakah manfaat, harga, isi paket, dan ketentuan pembelian sudah jelas. Jangan buru-buru menambah diskon kalau masalahnya ternyata orang belum ngerti apa yang mereka dapat.

3. Kita Belum Ngerti Pembelinya?

Kadang kita terlalu sibuk ngomongin fitur yang menurut kita keren, padahal pembeli peduli hal lain.

Misalnya, kita menonjolkan bentuk lampu sepeda yang estetik. Sementara pembeli justru ingin tahu apakah lampunya cukup terang dan baterainya tahan buat perjalanan mereka.

Pertanyaan di chat, alasan batal beli, dan keluhan setelah pembelian bisa jadi bahan buat memperbaiki cara jualan.

Jangan Jadikan Kesuksesan Orang Lain sebagai Satu-satunya Alasan Pindah

Lihat temen laku keras memang bikin tergoda. Wajar.

Tapi yang terlihat biasanya cuma hasilnya. Kita belum tentu tahu proses belajar, biaya percobaan, atau pengalaman yang sudah mereka kumpulkan.

Kalau ikut pindah hanya karena melihat penjualannya ramai, kita bisa masuk ke pasar baru tanpa persiapan yang cukup.

Sebelum keluar modal, coba jawab:
– Siapa pembelinya?
– Kebutuhan apa yang mau kita bantu?
– Apa yang sudah kita pahami tentang pasar ini?
– Bisa dites kecil dulu, atau langsung harus menumpuk stok?
– Apa alasan pindah selain “orang lain lagi laku”?

Kalau jawabannya masih kabur, jangan buru-buru belanja barang.

Fokus Bukan Berarti Nggak Boleh Berubah

Ada saatnya pindah pasar memang masuk akal. Misalnya, setelah diuji, permintaannya kurang cocok, produknya sulit dijaga kualitasnya, atau cara bisnisnya nggak sesuai kemampuan kita.

Yang perlu dihindari adalah pindah tanpa evaluasi. Kalau penyebab masalahnya nggak dipahami, kebiasaan yang sama bisa ikut terbawa ke jualan berikutnya.

Kita ganti barang, tapi cara mengambil keputusannya tetap sama. Begitu seret, langsung cari produk lain.

Jangan buru-buru pindah cuma karena lihat orang lain laku. Bisa jadi yang perlu diganti bukan pasarnya, tapi produk, penawaran, atau cara kita jualannya.

Tujuannya bukan bertahan paling lama di satu produk. Tujuannya supaya setiap percobaan bikin kita makin ngerti bisnis—bukan sekadar makin banyak stok.

Leave a Reply

© 2018 - Loops.id