Menjelang Lebaran, banyak owner baru sadar kalau pengeluaran karyawan datang berdekatan.
Ada gaji bulan ini.
Lalu THR.
Nggak lama setelah itu, masuk jadwal gaji bulan berikutnya.
Dalam waktu singkat, uang bisnis harus keluar beberapa kali untuk kebutuhan yang sama-sama nggak bisa ditunda. Nggak heran kalau rasanya seperti bayar gaji tiga kali sekaligus.
Masalahnya sering kali bukan karena bisnis nggak menghasilkan uang. Masalahnya, dana THR baru dicari ketika tanggal pembayarannya sudah dekat.
THR Bukan Pengeluaran Dadakan
Lebaran datang setiap tahun. Artinya, kebutuhan THR sebenarnya bisa diprediksi jauh-jauh hari.
Tapi karena pembayarannya cuma terjadi setahun sekali, THR sering dianggap sebagai pengeluaran tambahan. Uangnya baru disiapkan ketika waktunya sudah mepet.
Akhirnya, owner terpaksa mengambil dana yang awalnya disiapkan untuk:
– belanja stok;
– menjalankan iklan;
– membayar operasional;
– mencicil kewajiban bisnis;
– atau menjaga kas tetap aman.
THR memang berhasil dibayar, tetapi setelah itu bisnis malah kehilangan napas.
Iklan direm karena uangnya kepakai. Stok terlambat dibeli. Tagihan operasional mulai menumpuk. Padahal semua itu bisa dicegah kalau THR diperlakukan sebagai biaya yang memang harus disiapkan.
Sisihkan Sedikit demi Sedikit
Cara paling sederhana adalah menyisihkan dana THR setiap bulan.
Nggak perlu menunggu omzet sedang besar. Begitu ada alokasi untuk gaji karyawan, buat juga alokasi khusus untuk THR.
Dana tersebut sebaiknya dipisahkan dari kas operasional. Jangan hanya dicatat di kepala sebagai “uang yang nanti nggak boleh dipakai”, tetapi uangnya tetap bercampur dalam satu rekening.
Kalau masih bercampur, biasanya dana itu terlihat seperti uang menganggur. Sedikit demi sedikit dipakai untuk stok, iklan, atau kebutuhan lain. Saat waktunya membayar THR, saldonya ternyata sudah berkurang.
Rekening atau tempat penyimpanan terpisah membuat batasnya lebih jelas: ini bukan uang bebas, melainkan kewajiban yang sedang dicicil.
Hitung dari Jauh Hari
Mulailah dari memperkirakan total kewajiban THR yang perlu disiapkan. Setelah itu, lihat berapa bulan waktu yang masih tersedia.
Dari sana, bisnis bisa menentukan jumlah yang perlu disisihkan secara rutin. Kalau ada perubahan jumlah karyawan atau kebutuhan lain, alokasinya tinggal diperbarui.
Tujuannya bukan mencari persentase yang berlaku untuk semua bisnis. Tujuannya supaya kebutuhan besar tidak datang sekaligus dan mengganggu operasional.
Semakin awal disiapkan, semakin kecil tekanan kas bulanannya.
Jangan Menunggu Bulan Ramadan
Kesalahan paling umum adalah baru membahas THR ketika Ramadan sudah dekat.
Pada titik itu, pilihan bisnis biasanya sudah sempit. Owner harus mengambil uang dari pos lain, menunggu pencairan, mengejar penjualan, atau berharap omzet musiman bisa menutup semuanya.
Kalau penjualan sedang bagus, mungkin masih aman. Tapi kalau omzet turun atau ada pengeluaran tidak terduga, cashflow bisa langsung terganggu.
Persiapan THR seharusnya dimulai setelah kewajiban sebelumnya selesai dibayar, bukan beberapa minggu sebelum jatuh tempo berikutnya.
Decision Rule
Kalau sebuah pengeluaran waktunya sudah bisa diprediksi, jangan memperlakukannya sebagai kejutan.
Sisihkan dan pisahkan dananya sejak jauh-jauh hari. Jangan menunggu bulan pembayaran, lalu mengambil uang dari stok, iklan, atau operasional.
Dengan begitu, ketika waktunya membayar THR tiba, bisnis tidak perlu memilih antara memenuhi kewajiban kepada karyawan atau menjaga operasional tetap berjalan.




