Lead Banyak, Tapi Ternyata Order Fiktif

Lead Banyak, Tapi Ternyata Order Fiktif


Lead Banyak, Tapi Ternyata Order Fiktif

Lead masuk banyak biasanya dianggap sebagai tanda iklan berhasil.

Notifikasi terus muncul. Form makin penuh. Tim sales kelihatan sibuk.

Tapi setelah dicek, banyak nomor nggak aktif, alamatnya aneh, chat nggak dibalas, atau order-nya ternyata nggak pernah benar-benar dibayar.

Di sinilah masalahnya: lead banyak belum tentu berarti bisnis sedang sehat.

Jangan cuma lihat jumlah lead

Jumlah lead memang penting, tapi itu baru angka paling atas.

Yang lebih penting adalah kualitas lead tersebut.

Coba lihat dari semua lead yang masuk:

– Berapa yang nomornya masih aktif?
– Berapa yang bisa dihubungi?
– Berapa yang membalas chat?
– Berapa yang benar-benar tertarik?
– Berapa yang membuat order?
– Berapa yang akhirnya membayar?

Kalau jumlah lead besar, tapi hampir semuanya berhenti di tahap validasi, berarti ada masalah yang perlu dicari.

Bukan berarti iklannya otomatis bagus hanya karena lead terus masuk.

Kenapa order fiktif bisa muncul?

Ada beberapa kemungkinan.

1. Traffic yang masuk kualitasnya rendah

Penempatan iklan tertentu bisa menghasilkan banyak klik atau lead, tapi belum tentu mendatangkan orang yang benar-benar punya niat membeli.

Orang mungkin mengisi form karena penasaran, salah klik, atau tertarik dengan iklannya saja. Setelah dihubungi, mereka tidak merespons.

2. Form terlalu mudah diisi

Semakin mudah form diisi, semakin besar kemungkinan orang mengisinya tanpa niat serius.

Apalagi kalau hanya meminta nama dan nomor telepon tanpa pertanyaan tambahan. Jumlah lead memang bisa naik, tapi kualitasnya belum tentu ikut naik.

3. Ada spam atau bot

Lead yang masuk dengan pola data mirip, nomor tidak aktif, atau alamat yang berulang bisa menjadi tanda adanya spam.

Tidak semua lead seperti ini pasti bot, tapi pola yang berulang tetap perlu diperiksa.

4. Penawaran iklan kurang jelas

Kalau iklan menjanjikan sesuatu yang berbeda dari produk sebenarnya, orang yang masuk bisa memiliki ekspektasi yang salah.

Mereka tertarik dengan iklan, tapi tidak cocok dengan penawaran ketika dihubungi.

Akibatnya, lead masuk banyak, tapi sulit dikonversi menjadi order.

Bedakan lead, order, dan pembeli

Tiga hal ini sering dianggap sama, padahal berbeda.

Lead adalah orang yang meninggalkan data atau menunjukkan ketertarikan.

Order adalah orang yang sudah melakukan pemesanan.

Pembeli adalah orang yang order-nya valid dan benar-benar membayar.

Kalau laporan hanya berhenti di jumlah lead, kamu belum tahu apakah iklannya menghasilkan uang atau cuma menghasilkan data.

Misalnya ada 100 lead masuk. Setelah dicek, hanya 40 yang bisa dihubungi. Dari 40 orang itu, hanya 10 yang membalas. Lalu cuma 3 yang membuat order, dan hanya 2 yang membayar.

Angka yang paling penting bukan 100 lead tadi, tapi 2 pembeli yang benar-benar menghasilkan pemasukan.

Cara mengecek kualitas lead

Mulai dari membuat proses validasi sederhana.

Setiap lead bisa dikelompokkan menjadi:

– Nomor aktif dan bisa dihubungi
– Membalas tapi belum tertarik
– Tertarik dan minta informasi
– Sudah melakukan order
– Order valid dan sudah membayar
– Nomor tidak aktif atau data mencurigakan

Dengan cara ini, kamu bisa melihat titik masalahnya.

Kalau banyak nomor tidak aktif, mungkin ada masalah di sumber traffic atau form.

Kalau banyak yang membalas tapi tidak jadi order, mungkin masalahnya ada di offer, harga, atau cara CS menjelaskan produk.

Kalau order banyak tapi pembayaran rendah, cek kembali proses konfirmasi dan metode pembayarannya.

Jangan hanya menyalahkan iklan

Ketika order fiktif meningkat, iklan sering langsung dianggap sebagai penyebab utama.

Padahal masalahnya bisa berasal dari beberapa bagian:

– Creative terlalu menjanjikan
– Target audiens kurang tepat
– Placement menghasilkan traffic murah tapi tidak berkualitas
– Form terlalu mudah diisi
– Penawaran tidak jelas
– Sistem validasi belum ada
– Follow-up CS terlalu lambat

Karena itu, jangan langsung mengganti semua hal sekaligus.

> ‎⁨Lead Banyak, Tapi Ternyata Order Fiktif Lead masuk banyak…
Coba ubah satu bagian dulu, lalu bandingkan hasilnya. Misalnya, perjelas isi form atau tambahkan pertanyaan untuk menyaring calon pembeli.

Dengan begitu, kamu bisa lebih mudah mengetahui perubahan mana yang benar-benar berpengaruh.

Lead murah belum tentu lead bagus

Lead dengan biaya murah memang terlihat menarik.

Tapi kalau sebagian besar tidak aktif atau tidak pernah membayar, biaya sebenarnya justru bisa lebih mahal.

Yang perlu dihitung bukan hanya biaya per lead, tetapi juga:

– Biaya per lead valid
– Biaya per lead yang bisa dihubungi
– Biaya per order
– Biaya per pembeli
– Margin setelah dikurangi biaya iklan dan operasional

Bisa saja biaya per lead terlihat murah, tapi biaya untuk mendapatkan satu pembeli justru sangat tinggi.

Ukur sampai ke pembayaran

Laporan iklan sebaiknya tidak berhenti di jumlah lead.

Hubungkan data iklan dengan data order dan pembayaran. Dari sana, kamu bisa melihat campaign atau placement mana yang memang menghasilkan pembeli.

Jangan hanya bertanya:

“Berapa banyak lead yang masuk?”

Tapi tanyakan juga:

“Berapa banyak yang valid dan menghasilkan uang?”

Pertanyaan kedua jauh lebih berguna untuk mengambil keputusan.

Penutup

Lead banyak memang bisa menjadi tanda ada minat terhadap produk.

Tapi lead bukan tujuan akhir.

Kalau banyak lead ternyata tidak bisa dihubungi, tidak membalas, alamatnya mencurigakan, atau order-nya tidak pernah dibayar, berarti kualitas traffic perlu dievaluasi.

Fokusnya bukan mengejar jumlah lead sebanyak-banyaknya.

Fokusnya adalah mendapatkan lead yang benar-benar relevan, bisa diproses, dan punya peluang menjadi pembeli.

Karena bisnis tidak tumbuh dari banyaknya lead yang masuk, tapi dari lead yang benar-benar berubah menjadi transaksi.

Leave a Reply

© 2018 - Loops.id