Dampak Target Audiens Terlalu Luas dan Terlalu Sempit

Dampak Target Audiens Terlalu Luas dan Terlalu Sempit


Dampak Target Audiens Terlalu Luas dan Terlalu Sempit

Menentukan target audiens memang gampang-gampang susah.

Kalau targetnya terlalu luas, iklan bisa menjangkau banyak orang yang sebenarnya nggak terlalu butuh produk kita.

Tapi kalau targetnya terlalu sempit, iklan bisa susah jalan dan datanya kurang.

Jadi, lebih baik target audiens dibuat luas atau sempit?

Jawabannya: tergantung data dan kondisi campaign.

Kalau target audiens terlalu luas

Target yang terlalu luas membuat iklan punya ruang untuk menjangkau banyak orang.

Tayangan bisa naik. Klik mungkin juga bertambah.

Tapi masalahnya, tidak semua orang yang melihat iklan punya kebutuhan atau minat yang sesuai.

Akibatnya, budget bisa terpakai untuk menjangkau orang-orang yang peluang belinya kecil.

Beberapa tandanya:

– Tayangan tinggi
– Klik ada, tapi kualitasnya rendah
– Banyak orang masuk halaman tapi tidak lanjut
– Lead banyak tapi sulit dihubungi
– Biaya iklan naik tanpa tambahan order yang berarti

Target luas bukan selalu buruk. Masalahnya muncul ketika jangkauan semakin besar, tapi kualitas traffic tidak ikut terjaga.

Kalau target audiens terlalu sempit

Target yang terlalu sempit juga punya masalah sendiri.

Iklan hanya ditampilkan ke kelompok kecil. Kalau jumlahnya terlalu sedikit, audiens bisa cepat habis.

Iklan akhirnya lebih sering muncul ke orang yang sama. Frekuensi naik, audiens mulai bosan, dan performa bisa turun.

Dampaknya bisa terlihat dari:

– Jangkauan sulit bertambah
– Frekuensi iklan terlalu tinggi
– CTR mulai turun
– Biaya per hasil naik
– Campaign sulit mendapatkan data yang cukup
– Iklan tidak bisa berkembang

Target terlalu sempit juga bisa membuat kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa produknya tidak laku.

Padahal, bisa saja masalahnya ada pada ukuran audiens yang terlalu terbatas.

Mana yang lebih berbahaya?

Target terlalu luas bisa membuat budget cepat habis karena menjangkau banyak orang yang tidak relevan.

Target terlalu sempit bisa membuat iklan sulit berjalan dan tidak punya cukup ruang untuk belajar.

Keduanya sama-sama bisa merugikan kalau tidak dipantau.

Karena itu, jangan hanya melihat ukuran audiens. Lihat juga kualitas hasilnya.

Jangan asal mempersempit target

Banyak orang mempersempit audiens karena merasa target yang spesifik pasti lebih bagus.

Padahal, belum tentu.

Misalnya produk ditujukan untuk pemilik bisnis online. Lalu target dipersempit berdasarkan terlalu banyak minat, pekerjaan, usia, lokasi, dan kebiasaan.

Hasilnya, audiens menjadi sangat kecil.

Iklan mungkin terlihat lebih spesifik, tapi sistem jadi kesulitan menemukan cukup banyak orang yang punya kemungkinan membeli.

Lebih spesifik tidak selalu berarti lebih efektif.

Jangan juga membiarkan target terlalu luas

Sebaliknya, target yang luas juga bukan berarti bisa dibiarkan begitu saja.

Kalau traffic yang masuk ternyata tidak relevan, jangan hanya melihat jumlah tayangan atau klik.

Cek juga:

– Siapa yang mengklik
– Dari mana mereka datang
– Berapa lama mereka berada di halaman
– Berapa yang mengisi form
– Berapa yang bisa dihubungi
– Berapa yang benar-benar membeli

Kalau jangkauan besar tapi tidak menghasilkan tindakan yang berarti, mungkin targetnya perlu dievaluasi.

Mulai dari audiens yang masih relevan

Daripada langsung membuat target super luas atau super sempit, mulai dari kelompok yang masih masuk akal untuk produk tersebut.

Pastikan mereka punya hubungan dengan masalah yang ingin diselesaikan oleh produk.

Setelah iklan berjalan, lihat datanya.

Cari tahu audiens mana yang:

– Paling sering mengklik
– Paling lama melihat halaman
– Paling banyak mengisi form
– Paling sering membalas chat
– Paling banyak melakukan pembelian

Dari data tersebut, kamu bisa menentukan apakah audiens perlu diperluas atau justru diperbaiki.

Perhatikan tanda-tanda audiens mulai jenuh

Audiens yang terlalu sempit biasanya lebih cepat mengalami kejenuhan.

Iklan terus muncul ke orang yang sama. Awalnya mereka mungkin masih tertarik, tapi lama-lama mulai mengabaikan iklan.

Beberapa tandanya:

– Frekuensi naik
– CTR turun
– Komentar atau respons berkurang
– Biaya per klik meningkat
– Jumlah order menurun

Kalau tanda ini muncul, jangan langsung menyimpulkan campaign gagal.

Coba lihat apakah masalahnya berasal dari ukuran audiens, creative yang terlalu sering dipakai, atau keduanya.

Data harus lebih penting daripada asumsi

Target audiens sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan perasaan.

Jangan berpikir:

“Targetnya harus dibuat sempit supaya lebih tepat.”

Atau:

“Targetnya dibuat luas saja supaya jangkauannya besar.”

Dua-duanya belum tentu benar.

Yang lebih penting adalah melihat hubungan antara target, traffic, dan pembelian.

Kalau target diperluas dan kualitas pembeli tetap bagus, berarti ada ruang untuk scale.

Kalau target diperluas tapi lead dan order langsung turun kualitasnya, mungkin perlu dibuat lebih terarah.

Cari titik tengah

Target audiens yang sehat biasanya bukan yang paling luas atau paling sempit.

Target yang sehat adalah target yang:

– Masih cukup besar untuk dijangkau
– Tetap relevan dengan produk
– Bisa menghasilkan data
– Tidak terlalu cepat jenuh
– Menghasilkan traffic yang berkualitas
– Punya peluang menjadi pembeli

Tidak ada ukuran yang selalu cocok untuk semua campaign.

Produk, harga, lokasi, creative, dan jenis penawaran bisa memengaruhi ukuran audiens yang ideal.

Kesimpulan

Target audiens terlalu luas bisa membuat budget terpakai untuk orang yang kurang relevan.

Target terlalu sempit bisa membuat iklan susah jalan, cepat jenuh, dan kekurangan data.

Jadi, jangan menentukan target hanya berdasarkan ukuran audiens.

Lihat siapa yang mengklik, siapa yang masuk halaman, siapa yang membalas, dan siapa yang benar-benar membeli.

Target yang bagus bukan yang paling luas atau paling sempit, tapi yang cukup relevan dan masih bisa menghasilkan data.

Leave a Reply

© 2018 - Loops.id