Pernah lihat iklan yang nulis harga asli jutaan, terus dicoret, dan harga jualnya cuma sepertiganya? Di atas kertas ini kedengarannya strategi bagus orang suka merasa dapat harga murah. Tapi kalau dipakai sembarangan, trik ini justru bisa bikin calon pembeli curiga duluan sebelum mereka sempat lihat produknya.
Kenapa Harga Coret Bisa Berbalik Jadi Bumerang
Harga coret itu sebenarnya teknik psikologi harga yang sah — namanya price anchoring. Otak orang butuh pembanding untuk menilai apakah sebuah harga itu mahal atau murah. Masalahnya muncul ketika angka “harga asli” itu nggak masuk akal: terlalu jauh dari harga pasar, terlalu rapi (kelipatan bulat yang mencurigakan), atau kelihatan sengaja dibuat tinggi cuma biar potongannya kelihatan dramatis.
Begitu calon pembeli berpikir “ini kayaknya nggak pernah dijual segitu deh”, kepercayaan mereka langsung turun. Dan begitu trust turun, nggak peduli seberapa murah harga akhirnya, closing jadi lebih susah.
Syarat Harga Coret yang Masih Masuk Akal
Harga coret cuma efektif kalau memenuhi dua hal:
1. Angka awalnya memang pernah berlaku — bukan dikarang untuk kebutuhan iklan. Kalau sebelumnya memang pernah dijual di harga itu, atau itu harga normal di pasaran, itu baru pantas disebut “harga asli”.
2. Selisihnya masih masuk akal — diskon 20-40% biasanya kelihatan wajar. Begitu potongannya sampai 60-70% lebih, orang mulai bertanya-tanya: “ini produknya beneran worth segitu, atau awalnya memang digelembungkan?”
Yang Perlu Dilakukan Sebelum Pasang Harga Coret
Daripada menebak-nebak, coba jalankan dua versi iklan secara bersamaan: satu dengan harga coret, satu lagi tanpa harga coret — cuma menampilkan harga jual langsung dengan penjelasan value yang kuat. Jangan cuma lihat klik atau add to cart. Bandingkan dua angka yang sebenarnya menentukan bisnis:
– Order yang benar-benar dibayar (bukan cuma checkout yang ditinggal)
– Tingkat komplain atau retur setelah barang sampai
Kalau versi harga coret ternyata closing-nya lebih tinggi tapi komplainnya juga ikut naik, itu tanda trust yang didapat di awal nggak tahan sampai barang diterima. Sebaliknya, kalau versi tanpa harga coret closing-nya mirip atau malah lebih stabil dengan komplain lebih rendah, berarti audiens kamu lebih percaya pada kejujuran harga daripada kesan diskon besar.
Intinya
Harga coret bukan trik yang otomatis salah — tapi juga bukan jaminan closing naik. Dia cuma alat, dan seperti alat lain, efektifnya tergantung cara pakainya. Kalau angka awalnya jujur dan masuk akal, dia membantu orang menilai value. Kalau dipaksakan cuma biar kelihatan “gede diskonnya”, yang didapat bukan kepercayaan tapi kecurigaan yang muncul sebelum transaksi sempat terjadi.


