Setelah berkali-kali testing, akhirnya ketemu juga iklan yang bagus.
Order masuk terus, biaya iklan masih aman, dan produknya mulai kelihatan punya potensi buat di-scale.
Masalahnya, stok malah habis.
Barang baru datang lima atau enam hari lagi. Kalau iklan dimatiin, sayang banget karena momentumnya sedang bagus. Tapi kalau diterusin, order bakal terus masuk sementara barangnya belum ada.
Dalam kondisi begini, keputusan terbaik bukan selalu “gas terus” atau “langsung matiin”. Ada beberapa hal yang perlu dicek dulu.
Pastikan Kapan Stok Benar-benar Datang
Jangan mengambil keputusan dari perkiraan yang belum jelas.
Supplier bilang barang datang lima hari lagi belum tentu berarti lima hari lagi barang sudah siap dikirim ke customer. Bisa saja produksinya terlambat, pengiriman dari supplier mundur, atau barang datang tetapi belum selesai dicek dan dipacking.
Coba pastikan:
– barangnya sudah selesai diproduksi atau belum;
– kapan barang benar-benar dikirim supplier;
– ada nomor resi atau bukti pengiriman atau nggak;
– butuh berapa lama untuk pengecekan dan packing;
– kapan pesanan customer bisa mulai dikirim.
Kalau tanggal kedatangan barangnya masih berubah-ubah, sebaiknya jangan terus menerima order sebanyak biasanya.
Tanya Apakah Customer Mau Menunggu
Nggak semua customer keberatan menunggu. Masalah biasanya muncul ketika mereka merasa barangnya tersedia dan bisa segera dikirim, padahal ternyata harus menunggu beberapa hari.
Kalau stok memang akan datang pada tanggal yang jelas, kita bisa membuka sistem pre-order.
Tapi informasinya harus disampaikan sejak awal. Jangan baru memberi tahu setelah customer transfer atau pesanan selesai dibuat.
Tuliskan dengan jelas:
– status barang adalah pre-order;
– perkiraan tanggal barang dikirim;
– kemungkinan perubahan jadwal;
– pilihan pembatalan kalau customer nggak mau menunggu.
Pre-order yang jujur masih memberi customer kesempatan untuk memilih. Berbeda dengan order biasa yang diam-diam ditahan karena barangnya belum tersedia.
Cari Supplier Cadangan, tapi Jangan Abaikan Kualitas
Pilihan lain adalah mencari stok dari supplier berbeda.
Harga barangnya mungkin lebih mahal dan margin kita jadi lebih kecil. Tapi kalau kualitasnya sama dan barang bisa langsung dikirim, cara ini bisa membantu menjaga momentum iklan.
Tetap jangan terburu-buru.
Pastikan barang dari supplier cadangan punya:
– kualitas yang sama;
– ukuran dan spesifikasi yang sesuai;
– kondisi kemasan yang layak;
– jumlah stok yang benar-benar tersedia;
– waktu pengiriman yang bisa dipastikan.
Jangan sampai demi mempertahankan margin dan momentum, customer malah menerima barang yang berbeda dari iklan.
Kalau Restock Belum Jelas, Rem Iklannya
Kalau supplier belum bisa memberi tanggal pasti dan nggak ada stok cadangan, pilihan paling aman adalah mematikan atau mengecilkan iklan sementara.
Mematikan iklan memang terasa sayang, apalagi setelah susah payah menemukan campaign yang bagus.
Tapi meneruskan iklan tanpa kemampuan memenuhi order juga punya biaya.
Chat customer akan menumpuk. Permintaan refund mulai masuk. CS harus menghadapi komplain. Reputasi toko bisa ikut turun.
Akhirnya keuntungan dari iklan yang sedang bagus malah habis buat menyelesaikan masalah operasional.
Kita nggak harus mematikan semuanya. Budget bisa diturunkan, sebagian campaign dijeda, atau iklan diarahkan ke produk lain yang stoknya masih tersedia.
Tujuannya bukan kehilangan momentum, tetapi menyesuaikan jumlah order dengan kemampuan memenuhi pesanan.
Momentum Bisa Dicari Lagi, Kepercayaan Lebih Sulit Dikembalikan
Iklan yang bagus memang berharga. Kita belum tentu langsung menemukan performa yang sama setelah campaign dijalankan kembali.
Tapi kepercayaan customer juga punya nilai.
Customer yang diberi informasi jujur soal pre-order masih bisa memahami. Customer yang merasa dibohongi soal stok biasanya lebih sulit diyakinkan lagi.
Jadi, saat iklan sedang winning tetapi stok habis, jangan cuma melihat angka di dashboard.
Cek kepastian restock, kesiapan customer untuk menunggu, dan ketersediaan supplier cadangan. Kalau semuanya belum jelas, rem iklannya dulu.
Kehilangan momentum masih bisa dicari lagi. Kehilangan kepercayaan customer, balikinya jauh lebih susah.


