Produk Baru Belum Punya Testimoni, Gimana Bikin Orang Percaya?
Produk sudah siap dijual. Foto sudah ada, iklan juga sudah dibuat.
Masalahnya, belum ada satu pun testimoni karena produknya memang baru.
Calon pembeli akhirnya ragu. Mereka takut produknya tidak sesuai foto, kualitasnya mengecewakan, atau uangnya hilang setelah melakukan pembayaran.
Di sisi lain, kalau belum ada yang membeli, dari mana kita mendapatkan testimoni?
Situasi seperti ini memang terasa seperti lingkaran yang sulit diputus. Namun, testimoni bukan satu-satunya alasan orang berani mencoba produk baru.
Kepercayaan juga bisa dibangun melalui bukti produk, transparansi, identitas penjual, dan risiko pembelian yang dibuat lebih kecil.
Jangan Tergoda Membuat Testimoni Palsu
Saat ingin segera mendapatkan penjualan pertama, membuat testimoni palsu mungkin terlihat seperti jalan pintas.
Kita membuat percakapan sendiri, meminjam foto orang lain, atau menulis ulasan seolah-olah berasal dari customer.
Masalahnya, customer sekarang makin terbiasa melihat promosi. Testimoni yang terlalu sempurna, bahasanya seragam, atau tidak memiliki detail pengalaman biasanya mudah dicurigai.
Sekali ketahuan palsu, masalahnya bukan cuma kehilangan satu transaksi. Reputasi toko ikut rusak dan semua bukti lain yang sebenarnya asli bisa dianggap bohong.
Lebih baik memulai dengan sedikit bukti yang jujur daripada terlihat meyakinkan karena banyak bukti palsu.
Testimoni Bukan Satu-satunya Bentuk Bukti
Testimoni memang membantu karena menunjukkan bahwa ada orang lain yang pernah membeli dan menggunakan produk.
Namun, fungsi utama testimoni sebenarnya adalah mengurangi keraguan.
Artinya, kita bisa menggunakan bentuk bukti lain untuk menjawab pertanyaan calon pembeli:
– Produknya benar-benar ada atau tidak?
– Bahannya seperti apa?
– Cara menggunakannya bagaimana?
– Apakah ukurannya sesuai?
– Apa yang terjadi kalau produknya rusak?
– Apakah penjualnya bisa dihubungi?
– Apakah pembayarannya aman?
Semakin banyak pertanyaan yang dijawab dengan jelas, semakin kecil risiko yang dirasakan calon pembeli.
Tunjukkan Produknya Secara Detail
Kalau belum punya testimoni, produk itu sendiri harus menjadi bukti utama.
Jangan hanya menggunakan satu foto yang terlalu banyak diedit. Tampilkan produk dari beberapa sudut dan dalam kondisi yang mendekati penggunaan sebenarnya.
Beberapa hal yang bisa ditunjukkan antara lain:
– Bahan dan tekstur produk.
– Ukuran serta dimensinya.
– Isi paket yang diterima.
– Cara penggunaan.
– Fitur utama dan batasannya.
– Proses pengemasan.
– Perbandingan ukuran dengan benda yang familiar.
– Kondisi produk sebelum dikirim.
Untuk produk yang memiliki fungsi tertentu, buat demonstrasi sederhana. Jangan hanya mengatakan bahwa produknya bagus atau berkualitas. Tunjukkan apa yang bisa dilakukan produk tersebut.
Bukti visual yang jelas biasanya lebih meyakinkan daripada klaim yang terlalu besar.
Gunakan Sampel untuk Mendapatkan Ulasan Pertama
Siapkan beberapa sampel dan berikan kepada orang yang memang sesuai dengan target pasar produk.
Tujuannya bukan meminta mereka membuat pujian, tetapi mendapatkan pengalaman penggunaan yang nyata.
Mintalah mereka mencoba produknya terlebih dahulu, kemudian tanyakan:
– Bagian mana yang paling membantu?
– Apa yang mereka sukai?
– Apa yang masih membingungkan?
– Apakah ada bagian yang perlu diperbaiki?
– Apakah produk tersebut sesuai dengan harapan awal?
Biarkan mereka memberikan pendapat dengan bahasanya sendiri.
Kalau ulasannya hanya berisi “bagus banget” atau “recommended”, calon pembeli belum memperoleh banyak informasi. Ulasan yang menceritakan situasi sebelum menggunakan produk, pengalaman selama mencoba, dan hasil yang dirasakan biasanya jauh lebih berguna.
Pastikan juga ada izin sebelum mempublikasikan nama, foto, atau percakapan mereka.
Jangan Menyamarkan Sampel Gratis sebagai Pembelian Biasa
Kalau seseorang menerima produk gratis atau mendapatkan kompensasi untuk mencoba produk, sampaikan dengan jujur.
Ulasannya tetap bisa digunakan selama pengalaman yang diceritakan memang nyata dan tidak diarahkan.
Transparansi tidak otomatis membuat ulasan menjadi lemah. Justru calon pembeli bisa melihat bahwa brand berani membuka proses pengujian produknya.
Yang perlu dihindari adalah meminta pengguna awal memberikan penilaian tertentu sebagai syarat mendapatkan produk.
Ulasan yang jujur juga bisa membantu menemukan kekurangan sebelum produk dipasarkan lebih luas.
Bangun Kepercayaan dari Identitas Penjual
Calon pembeli tidak hanya menilai produknya. Mereka juga menilai siapa yang menjualnya.
Pastikan identitas bisnis mudah diperiksa:
– Nama toko konsisten.
– Informasi kontak tersedia.
– Akun media sosial aktif.
– Deskripsi produk jelas.
– Respons terhadap pertanyaan tidak menghindar.
– Proses pemesanan dan pengiriman dijelaskan.
– Alamat atau informasi perusahaan ditampilkan jika relevan.
Toko yang terlihat aktif, terbuka, dan mudah dihubungi terasa lebih aman daripada toko yang hanya menampilkan katalog serta tombol pembayaran.
Kurangi Risiko Pembeli Pertama
Ketika sebuah produk belum dikenal, customer merasa sedang mengambil risiko lebih besar.
Kita bisa membantu memperkecil risiko tersebut melalui:
– Metode pembayaran yang aman.
– Garansi yang realistis.
– Aturan penukaran atau pengembalian yang jelas.
– Informasi ongkir sejak awal.
– Estimasi pengiriman yang masuk akal.
– Layanan bantuan setelah pembelian.
– Petunjuk penggunaan yang mudah dipahami.
Jangan menjanjikan garansi hanya untuk menarik pembeli. Pastikan aturan, batas waktu, dan proses pengajuannya benar-benar bisa dijalankan.
Garansi yang sederhana tetapi dipenuhi lebih berharga daripada janji besar yang sulit diklaim.
Hindari Klaim yang Berlebihan
Produk baru sering dipromosikan terlalu agresif karena ingin segera mendapatkan perhatian.
Akibatnya, penjual menggunakan kata-kata seperti:
– Paling bagus.
– Dijamin berhasil.
– Tanpa risiko.
– Hasil instan.
– Cocok untuk semua orang.
Klaim seperti ini justru bisa menambah rasa curiga, terutama ketika belum ada bukti yang mendukungnya.
Gunakan penjelasan yang lebih spesifik dan realistis. Terangkan siapa yang kemungkinan cocok menggunakan produk, masalah apa yang bisa dibantu, serta hasil apa yang wajar diharapkan.
Kejujuran mengenai batasan produk juga dapat meningkatkan kepercayaan.
Dokumentasikan Penjualan Pertama dengan Baik
Begitu mulai mendapatkan pembeli, jangan biarkan pengalaman mereka hilang begitu saja.
Lakukan tindak lanjut setelah produk diterima. Bukan untuk memaksa mereka membeli lagi, tetapi untuk memastikan:
– Produk sudah sampai.
– Kondisinya sesuai.
– Customer memahami cara menggunakannya.
– Tidak ada masalah yang belum diselesaikan.
Setelah customer memiliki cukup waktu untuk mencoba produk, baru minta ulasan.
Simpan ulasan berdasarkan produk dan masalah yang dibahas. Dengan begitu, testimoni yang ditampilkan tidak hanya banyak, tetapi juga relevan terhadap keraguan calon pembeli berikutnya.
Kesimpulan
Produk baru memang belum memiliki banyak testimoni. Namun, bukan berarti produk tersebut tidak bisa dipercaya.
Mulailah dengan menunjukkan bukti yang bisa diperiksa:
– Produk yang diperlihatkan secara detail.
– Demonstrasi yang realistis.
– Ulasan jujur dari pengguna awal.
– Identitas penjual yang jelas.
– Pembayaran yang aman.
– Garansi dan aturan pengembalian yang masuk akal.
Jangan menunggu memiliki ratusan testimoni baru berani menjual. Tetapi jangan pula mengambil jalan pintas dengan membuat bukti palsu.
Kepercayaan dibangun dari bukti yang bisa dilihat, risiko yang diperkecil, dan janji yang tidak berlebihan. (2/2)


