Banyak pebisnis pemula percaya bahwa memberikan diskon besar-besaran adalah cara paling ampuh untuk menarik pelanggan. Memang, siapa sih yang nggak suka harga murah? Promosi potongan harga bisa langsung memikat perhatian calon pembeli, meningkatkan traffic toko, bahkan mendongkrak omzet dalam waktu singkat.
Namun, di balik manisnya strategi ini, ada jebakan yang bisa membuat bisnis justru merugi dan kehilangan arah. Jika tidak diatur dengan strategi matang, diskon bisa jadi pisau bermata dua: menguntungkan sesaat, tapi menghancurkan bisnis dalam jangka panjang.
Mari kita kupas lebih dalam jebakan yang sering muncul dari strategi promosi berupa diskon.
1. Pelanggan Jadi “Ketagihan Diskon”
Ketika bisnis terlalu sering memberi diskon, pelanggan akan terbiasa menunggu harga turun. Mereka jadi enggan membeli dengan harga normal karena sudah tahu akan ada potongan harga lagi di kemudian hari.
Contohnya, kalau setiap bulan kamu selalu kasih diskon 50%, pelanggan akan berpikir, “Ah, tunggu saja bulan depan pasti diskon lagi.” Akhirnya, penjualan harga normal seret, dan brand kamu hanya diingat sebagai “tempat cari harga murah,” bukan produk bernilai.
2. Margin Keuntungan Tergerus
Diskon berarti memangkas keuntungan yang seharusnya masuk ke kantongmu. Kalau margin produk tipis tapi diskon terlalu besar, bukan hanya profit yang hilang, tapi bisa jadi modal ikut terkikis.
Bayangkan: produk kamu modalnya Rp50.000, dijual Rp75.000. Saat kamu kasih diskon 30%, harga jual jadi Rp52.500. Keuntungannya cuma Rp2.500, padahal biaya operasional (ongkir, iklan, packaging) masih harus ditanggung.
Lama-lama, jualan makin capek tapi untungnya tidak terasa.
3. Brand Terlihat Murahan
Brand besar jarang sekali banting harga besar-besaran kecuali pada momen tertentu (misalnya Harbolnas atau clearance sale). Kenapa? Karena mereka ingin menjaga value brand.
Kalau kamu terlalu sering main diskon, produkmu bisa dianggap murahan dan kualitasnya diragukan. Padahal, membangun citra brand itu mahal dan butuh waktu lama. Jangan sampai reputasi bisnismu rusak hanya karena salah strategi promosi.
4. Persaingan Diskon yang Tidak Ada Habisnya
Di marketplace, persaingan harga sangat ketat. Kalau strategi promosi bisnismu hanya diskon, maka kamu akan masuk ke lingkaran setan perang harga.
Hari ini kamu kasih diskon 20%, besok kompetitor kasih 25%, lusa ada lagi yang banting harga 40%. Akhirnya, bukannya jadi lebih cuan, malah semua pebisnis merugi. Persaingan sehat harusnya ada di kualitas produk, inovasi, dan pelayanan, bukan sekadar siapa yang paling murah.
5. Cashflow Jadi Berantakan
Diskon memang bisa meningkatkan omzet secara instan. Tapi omzet tinggi tidak selalu berarti keuntungan besar. Kalau margin tipis bahkan negatif, cashflow (arus kas) bisnis justru berantakan.
Sering kali, pebisnis bangga dengan “penjualan naik drastis karena diskon,” padahal saat dihitung, laba bersih tidak ada, malah minus. Kalau cashflow kacau, sulit untuk melanjutkan operasional apalagi mengembangkan bisnis.
Jadi, Gimana Caranya Menghindari Jebakan Diskon?
✅ Gunakan diskon dengan bijak
Diskon sebaiknya hanya untuk momen tertentu, misalnya launching produk baru, clearing stok lama, atau event besar (11.11, 12.12, Ramadan Sale).
✅ Fokus pada value, bukan harga
Bangun persepsi produk yang berkualitas sehingga orang membeli bukan karena murah, tapi karena merasa butuh dan percaya.
✅ Coba strategi promosi alternatif
Alih-alih diskon terus, gunakan promosi lain seperti:
- Bundle produk (beli 2 lebih hemat)
- Gratis ongkir
- Program loyalitas (poin belanja)
- Free gift (hadiah kecil yang meningkatkan kesan value)
✅ Tetapkan batas diskon yang sehat
Hitung dulu margin dan biaya operasional sebelum menentukan besaran diskon. Jangan asal banting harga.
Kesimpulan
Diskon memang senjata ampuh dalam dunia bisnis. Ia bisa menarik perhatian, meningkatkan penjualan, dan membuat brand lebih dikenal. Namun, kalau digunakan berlebihan tanpa strategi, diskon bisa jadi jebakan yang menjerumuskan bisnis ke jurang kerugian.
Kuncinya adalah keseimbangan. Gunakan diskon sebagai bumbu promosi, bukan menu utama. Bangun value, kualitas, dan pelayanan yang membuat konsumen tetap loyal meski tanpa potongan harga. Dengan begitu, bisnis tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang secara berkelanjutan.