Udah Bayar Endorse, Videonya Boleh Langsung Dipakai buat Ads?

Udah Bayar Endorse, Videonya Boleh Langsung Dipakai buat Ads?

Banyak brand mengira setelah membayar endorse, semua konten yang dibuat creator otomatis bebas dipakai di mana saja. Videonya sudah dikirim. Creator sudah upload. Brand juga sudah bayar lunas. Rasanya wajar kalau video tersebut kemudian diunduh, diedit, lalu dipasang sebagai materi iklan. Padahal, belum tentu hak yang dibeli sampai sejauh itu. Bayar endorse biasanya mencakup proses …

Continue reading →

Udah Bayar Endorse, Videonya Boleh Langsung Dipakai buat Ads?

Udah Bayar Endorse, Videonya Boleh Langsung Dipakai buat Ads?

Banyak brand mengira setelah membayar endorse, semua konten yang dibuat creator otomatis bebas dipakai di mana saja. Videonya sudah dikirim. Creator sudah upload. Brand juga sudah bayar lunas. Rasanya wajar kalau video tersebut kemudian diunduh, diedit, lalu dipasang sebagai materi iklan. Padahal, belum tentu hak yang dibeli sampai sejauh itu. Bayar endorse biasanya mencakup proses …

Continue reading →

Website Rp5 Juta, Speed-nya Grade E. Lanjut Bayar atau Stop?

Website Rp5 Juta, Speed-nya Grade E. Lanjut Bayar atau Stop?

Kita pesan website seharga Rp5 juta dan sudah bayar DP. Begitu versi awalnya jadi, hasil tes performanya malah dapat grade E. Website terasa lambat, lalu akses yang diberikan juga terbatas: kita cuma boleh mengubah konten, sementara bagian plugin dan pengaturan teknis dikunci. Dalam kondisi begini, masalahnya ada di hosting, plugin, atau penyedia jasanya? Jawabannya: jangan …

Continue reading →

CPR Mahal? Jangan Buru-Buru Utak-atik Targeting

CPR Mahal? Jangan Buru-Buru Utak-atik Targeting

Ketika biaya per lead mulai naik, refleks pertama kita biasanya sama: ganti targeting. Interest diubah. Umur diperlebar. Lokasi dipersempit. Campaign diduplikat. Bahkan akun iklannya ikut dicurigai. Padahal, belum tentu masalahnya ada di audiens. Bisa jadi orang yang kita targetkan masih relevan, tetapi mereka terus melihat materi iklan yang mirip-mirip. Ganti warna belum tentu jadi konten …

Continue reading →

Capek Gonta-ganti Produk? Jangan Buru-buru Bikin Brand

Capek Gonta-ganti Produk? Jangan Buru-buru Bikin Brand

Main produk hit-and-run memang melelahkan. Hari ini jual alat dapur, bulan depan pindah ke fashion, lalu ganti lagi karena biaya iklannya mulai mahal. Setiap produk sepi, rasanya kita harus mengulang semuanya dari awal. Wajar kalau akhirnya kepikiran: “Apa mending bikin brand sendiri aja biar bisnisnya lebih stabil?” Boleh. Tapi jangan menganggap brand sebagai obat otomatis …

Continue reading →

Retur 7% atau 14%? Bisa Jadi Nggak Ada yang Salah

Retur 7% atau 14%? Bisa Jadi Nggak Ada yang Salah

Dashboard pengiriman menunjukkan retur COD cuma 7%. Angkanya kelihatan aman. Tapi ketika invoice diperiksa dan laporan keuangan dirapikan, angka retur ternyata mencapai 14%—dua kali lipat dari yang terlihat di dashboard. Pertanyaannya: siapa yang salah? Dashboard-nya? Akuntannya? Atau memang ada paket yang nggak tercatat? Jawabannya bisa lebih sederhana: cara dan waktu menghitungnya berbeda. Dashboard Menampilkan Kondisi …

Continue reading →

Diskon Gede, Kok Malah Kelihatan Ngibul?

Diskon Gede, Kok Malah Kelihatan Ngibul?

Pernah lihat iklan yang nulis harga asli jutaan, terus dicoret, dan harga jualnya cuma sepertiganya? Di atas kertas ini kedengarannya strategi bagus orang suka merasa dapat harga murah. Tapi kalau dipakai sembarangan, trik ini justru bisa bikin calon pembeli curiga duluan sebelum mereka sempat lihat produknya. Kenapa Harga Coret Bisa Berbalik Jadi Bumerang Harga coret …

Continue reading →

CS Cepat Bales, Kok Retur Malah Naik?

CS Cepat Bales, Kok Retur Malah Naik?

Respons cepat sering dianggap sebagai tanda CS yang bagus. Chat masuk langsung dibalas, calon customer nggak dibiarkan nunggu, lalu angka closing ikut naik. Kelihatannya semua beres. Tapi ada kasus yang menarik: setelah CS lambat diganti dengan orang yang lebih gercep, closing memang membaik—namun paket retur juga ikut naik. Masalahnya bukan karena customer berubah pikiran. CS …

Continue reading →

Saldo Kepotong, Tagihan Iklan Tetap Ada. Harus Bayar Lagi?

Saldo Kepotong, Tagihan Iklan Tetap Ada. Harus Bayar Lagi?

Kamu menekan tombol bayar tagihan iklan. Saldo kartu langsung berkurang, tetapi dashboard malah menampilkan status pembayaran gagal. Tagihan tetap utuh, bahkan iklan bisa ikut berhenti. Situasi seperti ini bikin panik. Takut pembayaran pertama hilang, tapi kalau langsung bayar ulang, ada risiko saldo kepotong dua kali. Jadi, uangnya sebenarnya ada di mana? Saldo berkurang belum tentu …

Continue reading →

Iklan Udah Dimatiin, Kok Tagihan Tetap Nongol Rp30 Juta?

Iklan Udah Dimatiin, Kok Tagihan Tetap Nongol Rp30 Juta?

Pernah nggak ngalamin momen horor kayak gini: semua campaign iklan udah lo matiin empat hari lalu. Tenang-tenang aja. Eh pagi ini buka dashboard, metode pembayaran ditolak. Dicek ke billing—ada tagihan yang nggak masuk akal nominalnya. Yang bikin tambah aneh, materi iklannya udah berubah. Gambar dan copy yang biasa dipakai, sekarang isinya produk yang bahkan nggak …

Continue reading →

© 2018 - Loops.id