Advertiser berhasil menjaga performa iklan. Setiap hari dia mantengin dashboard, mengecek kampanye, mengatur budget, mencoba materi baru, lalu menyusun laporan mingguan sampai bulanan. Tapi ketika hasil kerjanya mulai terasa, kompensasinya tetap diam di tempat. Dari sisi pemilik bisnis, alasannya kadang sederhana: *“Kan kerjanya cuma ngatur iklan.”* Masalahnya, nilai sebuah pekerjaan nggak bisa ditentukan dari nama …
Artikel
Kelas Mahal, Isinya Basic?
Harga kelas online sekarang makin beragam. Ada yang ratusan ribu, jutaan, bahkan puluhan juta. Masalahnya, harga tinggi nggak otomatis bikin materi yang diajarkan jadi lebih dalam. Kadang kita selesai ikut kelas, lalu baru sadar sebagian besar isinya sebenarnya sudah pernah kita temukan gratis di internet. Bukan berarti semua kelas mahal jelek. Kelas yang bagus memang …
CS Nggak Closing, Salah Siapa?
Begitu angka closing turun, CS biasanya jadi orang pertama yang disorot. Chat masuk banyak, tapi order sedikit. Ada yang cuma tanya harga, ada yang hilang setelah dijelasin, ada juga yang sudah bilang mau transfer tapi nggak jadi-jadi. Dari sisi pemilik bisnis, reaksinya gampang ditebak: *CS-nya kurang jago. Ganti orang aja.* Masalahnya, closing bukan hasil kerja …
Jualan Jujur, tapi Kenapa Customer Tetap Curiga?
Customer bilang takut barang yang datang nggak sesuai foto. Padahal foto produk kita asli. Testimoni sudah ada. Garansi juga sudah ditulis jelas. Kita nggak pernah berniat menipu siapa pun. Tapi customer tetap ragu. Masalahnya belum tentu ada di toko kita. Bisa jadi mereka pernah punya pengalaman buruk saat belanja di tempat lain: barangnya beda dari …
Bukti Transfer Ada, Uangnya Nggak Masuk
Customer sudah mengirim bukti transfer. Tampilannya meyakinkan: ada nama, nominal, tanggal, dan status transaksi. Apakah ordernya langsung diproses? Jangan dulu. Screenshot hanya menunjukkan gambar yang dikirim customer. Gambar itu belum membuktikan bahwa uangnya sudah benar-benar masuk ke rekening kita. Transfernya bisa masih tertunda, salah tujuan, gagal diproses, atau bukti yang dikirim bukan transaksi yang sesuai. …
Produk Laku Belum Tentu Bisnisnya Aman
Order mulai ramai. Stok bergerak cepat. Iklan juga sudah ketemu polanya. Di titik ini, respons yang paling sering muncul adalah menambah stok dan menaikkan budget iklan. Padahal sebelum scale, ada satu hal yang perlu diperiksa: apakah legalitas produknya sudah siap? Masalah legalitas sering baru dipikirkan setelah bisnis membesar. Selama produk masih laku dan belum ada …
Stok Mati Nggak Sembuh Cuma Pakai Diskon
Stok mulai numpuk. Beberapa ukuran nggak bergerak. Warna tertentu masih memenuhi rak. Solusi pertama yang biasanya kepikiran: kasih diskon. Harganya dipotong 10 persen, belum laku. Turunin lagi. Tambah promo bundling. Kalau masih nggak bergerak, akhirnya dijual mendekati modal—bahkan rugi. Masalahnya, stok mati nggak selalu terjadi karena harganya kemahalan. Kadang barangnya memang sudah nggak dicari. Harga …
Uang Terakhir Jangan Semuanya Dipakai Buat Modal Usaha
Punya uang Rp50 juta memang kelihatan seperti modal yang cukup besar buat mulai bisnis. Masalahnya, angka di rekening nggak selalu sama dengan jumlah uang yang benar-benar siap dipakai buat usaha. Kalau uang itu masih dibutuhkan buat makan, bayar kontrakan, cicilan, sekolah anak, atau kebutuhan darurat, berarti fungsinya belum sepenuhnya sebagai modal. Sebagian dari uang tersebut …
Iklannya Bagus, Barangnya Bikin Kecewa
Iklan bisa kelihatan meyakinkan. Fotonya bagus, copywriting-nya rapi, dan order mulai masuk. Tapi masalah sebenarnya kadang baru muncul saat barang sampai ke customer. Bahannya ternyata tipis. Jahitannya kurang rapi. Warnanya beda dari foto. Ukurannya meleset. Atau produknya sekadar nggak sebagus kesan yang dibangun lewat iklan. Customer tentu nggak melihat siapa yang membuat foto atau menulis …
Customer Cuma Read, Masih Perlu Dikejar?
Calon customer udah nanya produk. CS juga udah bales dengan lengkap. Tapi setelah itu, chat cuma dibaca. Nggak ada jawaban. Nggak ada order. Situasi kayak gini sering bikin CS bingung. Kalau nggak di-follow-up, takut kehilangan calon pembeli. Tapi kalau terus dikejar, takut customer malah risih. Jadi, harus gimana? Follow-up Bukan Sekadar Nanyain “Jadi Order?” Masalahnya …









