Dapat Bintang Satu, Penjualan Toko Ikut Jatuh?

Dapat Bintang Satu, Penjualan Toko Ikut Jatuh?

Membangun rating toko membutuhkan waktu. Bisnis harus mengirim banyak pesanan, menjaga kualitas produk, membalas pertanyaan, menangani komplain, dan memberikan pengalaman yang konsisten. Namun, ulasan bintang satu bisa muncul hanya dalam beberapa detik. Ketika melihatnya, reaksi pertama kita mungkin ingin membantah, menyalahkan customer, meminta ulasan dihapus, atau menjelaskan bahwa kesalahan sebenarnya ada pada ekspedisi. Masalahnya, balasan …

Continue reading →

Packing Sudah Tebal, Barang Tetap Rusak Saat Sampai

Packing Sudah Tebal, Barang Tetap Rusak Saat Sampai

Paket sudah dilapisi bubble wrap berkali-kali. Kardusnya juga terlihat tebal dan lakbannya banyak. Namun, ketika sampai di tujuan, barang tetap penyok, pecah, bocor, atau tidak bisa digunakan. Masalahnya, packing aman bukan sekadar menambahkan lapisan sebanyak mungkin. Setiap produk memiliki risiko yang berbeda. Barang pecah belah membutuhkan perlindungan berbeda dari produk cair. Barang berat tidak bisa …

Continue reading →

Foto Produk Bagus Nggak Harus Pakai Kamera Mahal

Foto Produk Bagus Nggak Harus Pakai Kamera Mahal

Produk yang sebenarnya berkualitas bisa terlihat biasa saja ketika fotonya kurang jelas. Warnanya terlalu gelap, latarnya berantakan, bentuknya sulit dikenali, atau ukurannya tidak bisa diperkirakan. Customer akhirnya ragu, padahal produknya mungkin memang bagus. Ketika mengalami masalah tersebut, kita sering menyimpulkan bahwa solusinya adalah membeli kamera mahal, lensa baru, lampu profesional, atau menyewa studio. Peralatan yang …

Continue reading →

Bundling Kelihatan Laris, tapi Untungnya ke Mana?

Bundling Kelihatan Laris, tapi Untungnya ke Mana?

Paket bundling sering terlihat seperti strategi yang menguntungkan semua pihak. Customer mendapatkan beberapa produk dengan harga yang terasa lebih hemat. Bisnis bisa meningkatkan nilai transaksi sekaligus mengeluarkan lebih banyak produk dalam satu pesanan. Setelah bundling diluncurkan, jumlah paket yang terjual naik. Produk yang keluar dari gudang juga lebih banyak. Namun, ketika laporan keuangan diperiksa, keuntungannya …

Continue reading →

Promonya Banyak, Customer Malah Bingung Harganya

Promonya Banyak, Customer Malah Bingung Harganya

Niat awalnya ingin membuat penawaran terlihat menarik. Harga normal dicoret. Ada harga promo, bonus produk, gratis ongkir, cashback, voucher, dan tulisan “cuma hari ini”. Semua dimasukkan ke dalam satu halaman atau pesan WhatsApp. Namun, setelah membacanya, customer justru bertanya: “Jadi, total yang harus saya bayar berapa?” Kalau pertanyaan itu terus muncul, belum tentu customer tidak …

Continue reading →

Gratis Ongkir Bikin Closing Naik, tapi Siapa yang Bayar?

Gratis Ongkir Bikin Closing Naik, tapi Siapa yang Bayar?

Tulisan “Gratis Ongkir” memang menarik. Bagi customer, penawaran tersebut terasa sederhana: cukup membayar produknya, lalu barang dikirim tanpa biaya tambahan. Masalahnya, ongkir tidak benar-benar hilang. Ekspedisi tetap dibayar. Pertanyaannya hanya satu: biaya tersebut ditanggung platform, penjual, customer secara tidak langsung, atau dibagi di antara beberapa pihak? Kalau penjual tidak menghitungnya dengan benar, order mungkin bertambah …

Continue reading →

Iklan Dijiplak, Customer Malah Komplain ke Kita

Iklan Dijiplak, Customer Malah Komplain ke Kita

Bayangkan kamu sudah menghabiskan waktu dan biaya untuk membuat video iklan. Konsepnya dipikirkan, produknya disiapkan, videonya diedit, caption ditulis, lalu halaman penjualannya dibuat. Ketika iklannya mulai bekerja, tiba-tiba muncul akun lain yang menggunakan video, caption, dan tampilan halaman jualan yang hampir sama. Masalahnya bukan sekadar kontenmu disalin. Akun tersebut menjual barang berkualitas buruk. Ada juga …

Continue reading →

Customer Udah Mau Beli, tapi Kabur Gara-Gara Form Order

Customer Udah Mau Beli, tapi Kabur Gara-Gara Form Order

Iklannya berhasil menarik perhatian. Customer masuk ke halaman penjualan, membaca penawaran, memilih produk, lalu menekan tombol beli. Seharusnya tinggal selangkah lagi menuju transaksi. Namun, begitu melihat form order yang panjang, customer justru menutup halaman. Kita kemudian berpikir: “Paling cuma iseng.” Padahal, belum tentu niat belinya yang bermasalah. Bisa jadi proses checkout kita terlalu melelahkan, membingungkan, …

Continue reading →

Jadi Reseller Terus, Kapan Punya Aset Sendiri?

Jadi Reseller Terus, Kapan Punya Aset Sendiri?

Jadi Reseller Terus, Kapan Punya Aset Sendiri? Menjadi reseller atau dropshipper adalah salah satu cara paling masuk akal untuk memulai bisnis. Kita tidak perlu langsung memproduksi ribuan barang, menyewa gudang besar, atau mengeluarkan modal untuk produk yang belum tentu laku. Fokus awalnya sederhana: cari produk, pasarkan, layani customer, lalu pelajari bagaimana penjualan bekerja. Namun, setelah …

Continue reading →

Customer Sudah Beli, tapi Habis Itu Dilupain

Customer Sudah Beli, tapi Habis Itu Dilupain

Kita rela mengeluarkan biaya iklan untuk mendapatkan satu customer. Mulai dari membuat konten, membayar iklan, menjawab pertanyaan, sampai meyakinkan customer agar mau membeli. Setelah transaksi terjadi, barang dikemas dan dikirim. Selesai. Nomor customer kemudian dibiarkan menumpuk di WhatsApp. Bulan berikutnya, kita kembali membayar iklan untuk mencari pembeli baru dari nol. Padahal, ada orang yang sudah …

Continue reading →

© 2018 - Loops.id