Banyak brand mengira setelah membayar endorse, semua konten yang dibuat creator otomatis bebas dipakai di mana saja.
Videonya sudah dikirim. Creator sudah upload. Brand juga sudah bayar lunas. Rasanya wajar kalau video tersebut kemudian diunduh, diedit, lalu dipasang sebagai materi iklan.
Padahal, belum tentu hak yang dibeli sampai sejauh itu.
Bayar endorse biasanya mencakup proses produksi dan publikasi konten di akun creator. Sementara izin memakai ulang videonya sebagai iklan berbayar bisa menjadi hak yang berbeda. Semuanya bergantung pada kesepakatan sejak awal.
Endorse dan hak pakai iklan itu berbeda
Dalam kerja sama endorse, ada beberapa hal yang sebenarnya bisa dihitung terpisah:
– biaya pembuatan konten;
– biaya posting di akun creator;
– durasi posting;
– hak brand untuk mengunggah ulang konten;
– hak memakai konten sebagai iklan;
– izin mengedit video;
– penggunaan akun creator untuk menjalankan iklan atau whitelisting;
– durasi dan wilayah pemakaian.
Masalah biasanya muncul karena semua hal tersebut cuma disebut sebagai “endorse”.
Brand merasa sudah membeli videonya. Creator merasa hanya dibayar untuk membuat dan mengunggah konten. Keduanya baru menyadari perbedaan pemahaman ini ketika videonya sudah masuk Ads Manager.
Kenapa pemakaian buat ads perlu dibahas?
Konten organik dan iklan berbayar punya tingkat penggunaan yang berbeda.
Posting organik muncul di akun creator dalam periode tertentu. Jangkauannya bergantung pada audiens dan distribusi platform.
Sementara itu, iklan bisa dijalankan terus-menerus, ditampilkan kepada audiens yang jauh lebih luas, dipotong menjadi beberapa versi, serta digunakan untuk menghasilkan penjualan dalam jangka panjang.
Wajar kalau sebagian creator menetapkan biaya tambahan untuk penggunaan tersebut. Bukan karena mau mempersulit brand, tetapi karena nama, wajah, suara, dan hasil karyanya digunakan lebih luas daripada satu posting organik.
Karena itu, jangan langsung berasumsi bahwa file video yang sudah diterima bebas dipakai untuk semua kebutuhan.
Yang perlu disepakati sebelum produksi
Sebelum creator mulai membuat konten, sepakati setidaknya enam hal berikut.
1. Konten akan dipakai di mana?
Tentukan platformnya secara jelas: Instagram, Facebook, TikTok, YouTube, marketplace, landing page, atau semuanya.
Izin untuk satu platform belum tentu berlaku untuk platform lain.
2. Berapa lama hak pakainya?
Tentukan durasinya, misalnya 30 hari, tiga bulan, enam bulan, atau tanpa batas waktu jika kedua pihak menyetujuinya.
Jangan memakai kata “selamanya” tanpa memahami konsekuensinya bagi kedua pihak.
3. Apakah videonya boleh diedit?
Brand mungkin perlu memotong video, mengganti musik, menambahkan subtitle, mengubah CTA, atau membuat beberapa versi iklan.
Pastikan batas editnya jelas. Jangan sampai hasil edit mengubah maksud ucapan creator atau membuatnya terlihat menyampaikan klaim yang tidak pernah disetujui.
4. Iklannya dijalankan dari akun siapa?
Ada perbedaan antara menjalankan video dari akun brand dan menjalankan iklan menggunakan identitas atau akun creator.
Kalau membutuhkan whitelisting, partnership ads, atau akses tertentu, bahas sejak awal. Jangan meminta akses tambahan setelah harga disepakati seolah-olah itu sudah termasuk.
5. Apakah ada biaya tambahan?
Pisahkan biaya produksi, posting organik, dan hak penggunaan iklan. Dengan begitu, brand bisa menghitung kebutuhan secara transparan dan creator juga memahami hak yang diberikan.
6. Apa yang terjadi setelah masa izin berakhir?
Tentukan apakah iklan harus dihentikan, boleh diperpanjang, atau membutuhkan biaya baru. Catat juga siapa yang bertanggung jawab memastikan materi tersebut tidak lagi aktif.
Kesepakatan tertulis melindungi kedua pihak
Kesepakatan tidak harus selalu berupa kontrak puluhan halaman. Untuk kerja sama sederhana, dokumen singkat yang disetujui kedua pihak sudah jauh lebih aman daripada mengandalkan ingatan dari percakapan telepon.
Yang penting, detailnya tertulis:
– konten yang dibuat;
– jumlah dan jadwal posting;
– platform penggunaan;
– durasi hak pakai;
– izin edit;
– penggunaan untuk ads;
– biaya dan metode pembayaran;
– mekanisme perpanjangan;
– kondisi penghentian kerja sama.
Kalau ada perubahan di tengah jalan, tuliskan kembali dan minta persetujuan. Jangan mengandalkan kalimat, “Kemarin kayaknya sudah dibahas.”
Jangan tunggu konflik baru membahas hak pakai
Kerja sama endorse yang rapi bukan cuma soal memilih creator dengan audiens yang cocok. Hak penggunaan kontennya juga harus jelas.
Brand mendapatkan kepastian bahwa materi iklannya boleh dipakai. Creator tahu sejauh mana karya dan identitasnya digunakan. Kedua pihak juga terhindar dari permintaan mendadak, biaya tak terduga, atau konflik setelah campaign berjalan.
Intinya sederhana: bayar endorse dan membeli hak penggunaan untuk ads bisa menjadi dua kesepakatan berbeda.
Kalau hak pakainya belum tertulis, jangan anggap otomatis boleh. Sepakati semuanya sebelum produksi dimulai.


