Advertiser berhasil menjaga performa iklan. Setiap hari dia mantengin dashboard, mengecek kampanye, mengatur budget, mencoba materi baru, lalu menyusun laporan mingguan sampai bulanan.
Tapi ketika hasil kerjanya mulai terasa, kompensasinya tetap diam di tempat.
Dari sisi pemilik bisnis, alasannya kadang sederhana: *“Kan kerjanya cuma ngatur iklan.”* Masalahnya, nilai sebuah pekerjaan nggak bisa ditentukan dari nama jabatan atau seberapa lama seseorang duduk di depan laptop.
Di sisi lain, advertiser juga nggak otomatis berhak meminta kenaikan hanya karena pernah mendapat ROAS bagus. Hasil penjualan dipengaruhi banyak hal: produk, harga, stok, landing page, kualitas CS, sampai kondisi pasar.
Jadi, bagaimana cara menilai kompensasi advertiser dengan lebih adil?
Jangan cuma melihat angka terakhir
ROAS, biaya per hasil, dan jumlah penjualan memang penting. Tetapi angka akhir belum menceritakan seluruh pekerjaan di belakangnya.
Dua advertiser bisa menghasilkan angka yang mirip dengan kondisi kerja yang sangat berbeda. Yang satu mengelola satu produk stabil dengan materi iklan yang sudah terbukti. Yang lain harus mengurus beberapa produk, mencari materi baru, menjaga banyak akun, mengatasi masalah pembayaran, dan tetap memastikan budget nggak bocor.
Kalau penilaiannya cuma berdasarkan satu angka di dashboard, tanggung jawab yang sebenarnya mudah terlewat.
Sebelum membicarakan kompensasi, lihat setidaknya tiga hal: tanggung jawabnya, konsistensi hasilnya, dan seberapa besar uang bisnis yang dia jaga.
1. Seberapa besar tanggung jawabnya?
Mulailah dari pekerjaan yang benar-benar dia pegang, bukan dari nama posisinya.
Apakah advertiser hanya menjalankan kampanye yang sudah disiapkan? Atau dia juga ikut:
– meriset produk dan audiens;
– membaca data penjualan;
– menyusun rencana testing;
– memberi arahan materi iklan;
– mengatur dan mengamankan akses akun;
– memantau budget setiap hari;
– membuat laporan serta rekomendasi;
– berkoordinasi dengan tim konten, CS, dan operasional;
– menangani masalah ketika akun atau pembayaran terganggu?
Semakin banyak keputusan yang dipercayakan kepada seseorang, semakin besar pula risiko dan tanggung jawab yang dia bawa.
Jangan mempertahankan gaji untuk pekerjaan lama kalau ruang lingkup pekerjaannya sudah berubah jauh.
2. Hasilnya bagus sekali atau memang konsisten?
Satu kampanye bagus belum cukup untuk membuktikan kemampuan.
Bisa saja produknya sedang ramai, kompetisinya masih rendah, atau materi iklannya kebetulan tepat. Karena itu, jangan memakai satu tangkapan layar sebagai dasar promosi ataupun bonus besar.
Lihat performanya dalam periode yang cukup dan kondisi yang bisa dibandingkan. Misalnya:
– apakah budget dijaga sesuai batas yang disepakati;
– apakah keputusan mematikan atau melanjutkan iklan punya alasan yang jelas;
– apakah testing dilakukan dengan rapi;
– apakah laporan sesuai dengan kondisi penjualan nyata;
– apakah kesalahan yang sama terus berulang;
– apakah hasil tetap terjaga ketika budget atau jumlah produk bertambah;
– apakah dia bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi, bukan cuma membacakan angka.
Advertiser yang berharga bukan cuma orang yang pernah menemukan iklan bagus. Dia juga membantu bisnis mengurangi keputusan mahal yang dibuat tanpa data.
3. Berapa besar uang bisnis yang dia jaga?
Advertiser bisa memegang akses ke budget yang nilainya jauh lebih besar daripada gajinya.
Ini bukan berarti kompensasinya harus langsung dihitung sebagai persentase dari seluruh budget iklan. Budget besar belum tentu pekerjaannya lebih rumit, dan pengeluaran iklan bukan keuntungan bersih.
Namun, besarnya uang yang dikelola tetap perlu masuk pertimbangan. Kesalahan kecil pada limit, jadwal, akun, atau pembacaan data bisa menimbulkan kerugian yang serius.
Selain melihat hasil, nilai juga kualitas kontrolnya:
– apakah perubahan budget tercatat;
– apakah ada batas kerugian yang jelas;
– apakah akses akun tersusun aman;
– apakah penggunaan dana bisa direkonsiliasi;
– apakah keputusan penting punya dokumentasi;
– apakah bisnis tetap bisa berjalan ketika advertiser sedang tidak tersedia.
Kepercayaan untuk mengelola uang dan akses bisnis adalah bagian dari nilai pekerjaan, bukan bonus yang dianggap gratis.
ROAS bagus belum tentu semuanya kerja advertiser
Ini bagian yang sering bikin penilaian menjadi berat sebelah.
Ketika iklan bagus, advertiser dianggap hebat. Ketika penjualan turun, advertiser juga yang pertama disalahkan. Padahal hasil akhirnya melewati banyak bagian bisnis.
Iklan bisa mendatangkan orang yang tepat, tetapi penjualan tetap gagal kalau:
– produknya mengecewakan;
– harga atau penawarannya kurang masuk akal;
– landing page lambat atau membingungkan;
– stok sering kosong;
– CS terlambat membalas;
– pengiriman bermasalah;
– data order nggak rapi.
Karena itu, bonus performa sebaiknya nggak bergantung pada satu angka yang sebagian besar faktornya berada di luar kendali advertiser.
Tentukan indikator yang memang bisa dia pengaruhi, lalu pisahkan dari hasil tim secara keseluruhan.
Gaji tetap atau bonus performa?
Nggak ada satu skema yang cocok untuk semua bisnis. Tetapi model yang sehat biasanya punya tiga lapisan.
Gaji pokok yang sesuai tanggung jawab
Gaji pokok membayar waktu, keahlian, risiko, dan ruang lingkup pekerjaan. Nilainya perlu ditinjau ketika tanggung jawab berubah, bukan hanya ketika orangnya mengancam resign.
Bonus berdasarkan indikator yang disepakati
Bonus bisa diberikan ketika hasil dan proses mencapai standar tertentu. Indikatornya harus jelas, bisa diverifikasi, dan cukup berada dalam kendali advertiser.
Hindari aturan seperti, *“Kalau penjualan nggak mencapai target, bonus hilang,”* sementara produk, harga, stok, CS, dan keputusan promosi ditentukan tim lain.
Jadwal evaluasi yang jelas
Jangan membiarkan pembicaraan kompensasi hanya muncul ketika ada konflik.
Tentukan kapan performa ditinjau, data apa yang dipakai, apa yang dianggap berkembang, dan kondisi apa yang memicu perubahan peran atau kompensasi. Dengan begitu, pemilik bisnis dan advertiser sama-sama tahu aturan mainnya.
Jangan menunggu orang terbaik mulai mencari pintu keluar
Orang jarang pergi hanya karena satu bulan gajinya terasa kecil.
Biasanya masalah menumpuk: tanggung jawab bertambah, hasil dituntut terus naik, jam kerja makin panjang, tetapi perkembangan peran dan kompensasi nggak pernah dibicarakan.
Ketika tawaran lain datang, keputusan pindah akhirnya terasa mudah.
Pemilik bisnis mungkin melihatnya sebagai kurang loyal. Dari sisi pekerja, dia hanya melihat bahwa nilai kerjanya lebih dihargai di tempat lain.
Kenaikan kompensasi tentu tetap harus sesuai kemampuan bisnis. Jangan menjanjikan bonus yang arus kasnya sendiri nggak sanggup membayar. Tetapi keterbatasan bisnis perlu dibicarakan dengan jujur, disertai jalur perkembangan yang masuk akal.
Kalau belum bisa menaikkan gaji, mungkin ada pilihan lain yang relevan: mengurangi beban, memperjelas jam kerja, memberi bonus saat kondisi tertentu tercapai, menyediakan pelatihan, atau menyusun jadwal evaluasi berikutnya. Yang penting, jangan membiarkan tuntutan naik tanpa pembicaraan apa pun.
Kesimpulan
Kompensasi advertiser nggak bisa ditentukan hanya dari nama jabatan, satu hasil kampanye, atau besarnya budget iklan.
Lihat tanggung jawab yang benar-benar dia pegang, apakah performanya konsisten, seberapa besar uang dan akses bisnis yang dia jaga, serta faktor apa saja yang memang berada dalam kendalinya.
Kalau tanggung jawab dan performanya terus tumbuh tetapi kompensasinya selalu diam, jangan kaget ketika orang terbaik mulai melihat pintu keluar.
Sebaliknya, kalau datanya belum cukup dan sistem penilaiannya masih kabur, rapikan ukuran performanya terlebih dahulu. Kompensasi yang adil bukan sekadar membayar lebih mahal. Kompensasi yang adil berarti orang dinilai menggunakan kondisi, tanggung jawab, dan hasil yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.



