Barang Custom Udah Jadi, Pembeli Malah Cancel. Terus Mau Dijual ke Siapa?

Barang Custom Udah Jadi, Pembeli Malah Cancel. Terus Mau Dijual ke Siapa?

Jualan barang custom memang menarik. Pembeli bisa pesan produk yang benar-benar sesuai keinginannya—mulai dari nama, foto, warna, sampai desain khusus.

Tapi ada satu risiko yang sering baru terasa setelah kejadian:

Barangnya sudah selesai dibuat, eh pembelinya malah cancel.

Kalau barang biasa, mungkin masih bisa dijual ke orang lain. Masalahnya, barang custom biasanya dibuat untuk satu orang tertentu. Begitu ada nama, foto, ukuran, atau desain khusus, pasarnya langsung jadi sangat sempit.

Tumbler bertuliskan nama orang lain, kaos dengan desain komunitas tertentu, atau hampers dengan pesan khusus tentu nggak gampang dilempar ke pembeli berikutnya.

Akhirnya, penjual yang menanggung semua kerugiannya.

Chat “Iya, Kak, Jadi” Belum Tentu Jaminan

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap persetujuan lewat chat sudah cukup untuk memulai produksi.

Pembeli bilang:

“Iya, Kak, jadi.”

Kita langsung beli bahan, mencetak desain, dan mengerjakan pesanannya. Beberapa hari kemudian, pembeli menghilang atau tiba-tiba minta dibatalkan.

Alasannya bisa macam-macam:

– berubah pikiran;
– salah menentukan ukuran;
– menemukan harga lebih murah;
– uangnya dipakai untuk kebutuhan lain;
– atau memang dari awal belum benar-benar serius.

Masalahnya, keputusan pembeli bisa berubah dalam hitungan menit. Sementara biaya produksi yang sudah keluar nggak bisa ditarik kembali.

Karena itu, konfirmasi chat sebaiknya jangan dijadikan satu-satunya dasar untuk mulai bekerja.

Kenapa Barang Custom Punya Risiko Lebih Besar?

Barang biasa masih punya nilai jual untuk pasar yang lebih luas. Kalau satu pembeli batal, barang tersebut masih bisa ditawarkan kepada pembeli lain.

Barang custom berbeda.

Semakin spesifik permintaannya, semakin kecil kemungkinan barang itu bisa dijual ulang. Apalagi kalau produknya sudah memuat:

– nama pribadi;
– foto;
– tanggal tertentu;
– ukuran yang tidak umum;
– logo komunitas;
– ucapan khusus;
– atau desain yang hanya cocok untuk satu acara.

Artinya, ketika pesanan dibatalkan, kerugiannya bukan cuma bahan baku. Ada juga waktu kerja, tenaga desain, biaya cetak, kemasan, dan kesempatan mengerjakan pesanan lain.

Kalau kejadian seperti ini berulang, keuntungan dari beberapa order bisa habis untuk menutup satu pesanan yang dibatalkan.

Minta Pembayaran Sebelum Produksi

Cara paling sederhana untuk mengurangi risiko adalah meminta pembayaran sebelum produksi dimulai.

Bentuknya bisa disesuaikan dengan jenis produk dan besarnya biaya:

1. Bayar lunas di awal

Cocok untuk produk custom dengan nilai yang tidak terlalu besar atau barang yang benar-benar sulit dijual kembali.

Pembayaran lunas juga membuat proses lebih sederhana. Setelah uang masuk dan desain disetujui, pesanan langsung masuk antrean produksi.

2. Pakai sistem DP

Untuk pesanan bernilai besar, kita bisa meminta uang muka yang cukup untuk menutup bahan dan biaya produksi awal.

Jangan menentukan DP hanya karena angka 50 persen terasa umum. Hitung dulu biaya yang benar-benar akan hilang kalau pembeli membatalkan pesanan.

Kalau biaya produksi awal mencapai 70 persen dari harga jual, DP 20 persen tentu belum cukup melindungi bisnis.

Intinya, jumlah pembayaran awal harus masuk akal dibanding risiko yang kita tanggung.

Pastikan Desain Sudah Disetujui

Pembayaran sudah masuk bukan berarti produksi harus langsung dimulai. Pastikan pembeli juga sudah melihat dan menyetujui desain akhirnya.

Kirimkan preview yang cukup jelas, lalu minta persetujuan tertulis. Misalnya:

“Mohon dicek lagi nama, tulisan, warna, ukuran, dan desainnya. Kalau semuanya sudah sesuai, balas ‘setuju produksi’, ya.”

Tahap ini penting karena kesalahan kecil pada barang custom bisa membuat seluruh produk harus dibuat ulang.

Nama salah satu huruf saja sudah cukup menjadi masalah. Begitu juga dengan nomor, tanggal, ukuran, warna, dan posisi desain.
Jangan mengandalkan kalimat “pokoknya seperti yang kemarin” kalau detail pesanannya belum benar-benar jelas.

Jelaskan Aturan Pembatalan dari Awal

Aturan pembatalan jangan baru disampaikan saat pembeli ingin cancel. Jelaskan sebelum pembayaran dan sebelum produksi dimulai.

Nggak perlu ditulis dengan bahasa panjang dan kaku. Yang penting, pembeli memahami beberapa hal berikut:

– kapan pesanan dianggap masuk;
– kapan proses produksi dimulai;
– apakah pembayaran awal bisa dikembalikan;
– bagian mana yang masih boleh direvisi;
– berapa kali revisi diperbolehkan;
– dan apa yang terjadi kalau pesanan dibatalkan setelah produksi berjalan.

Contohnya:

“Karena produk dibuat khusus sesuai pesanan, order yang desainnya sudah disetujui dan masuk proses produksi nggak bisa dibatalkan.”

Kalimat seperti ini bukan untuk menakut-nakuti pembeli. Justru supaya kedua pihak punya pemahaman yang sama sejak awal.

Gunakan Alur yang Jelas

Supaya tim dan pembeli nggak bingung, buat alur pemesanan sesederhana mungkin:

Pesanan masuk → pembayaran → desain dikonfirmasi → pembeli menyetujui → produksi dimulai → barang dikirim.

Jangan lompat langsung dari chat pertama ke produksi.

Kalau ada tim CS, admin, desainer, dan bagian produksi, status pesanannya juga harus terlihat jelas. Jangan sampai bagian produksi mulai bekerja hanya karena melihat pesan “jadi, Kak”, padahal pembayaran belum masuk dan desain belum disetujui.

Gunakan status yang mudah dipahami, misalnya:

– menunggu pembayaran;
– pembayaran diterima;
– menunggu persetujuan desain;
– siap diproduksi;
– sedang diproduksi;
– siap dikirim.

Dengan begitu, kemungkinan salah komunikasi bisa ditekan.

Bukan Berarti Kita Nggak Percaya Pembeli

Meminta pembayaran dan persetujuan desain bukan berarti kita mencurigai semua pembeli.

Kita hanya sedang membagi risiko secara adil.

Pembeli mendapatkan produk yang dibuat khusus sesuai permintaannya. Penjual mengeluarkan bahan, waktu, dan tenaga untuk membuat produk tersebut.

Kalau seluruh proses bisa dimulai tanpa komitmen apa pun dari pembeli, berarti semua risikonya ditanggung penjual sendirian.

Bisnis yang sehat bukan cuma soal melayani pembeli sebaik mungkin. Kita juga perlu punya batas yang melindungi waktu, biaya, dan pekerjaan tim.

Jadi sebelum barang custom masuk produksi, pastikan tiga hal ini sudah beres:

Pembayaran masuk, desain disetujui, dan aturan pembatalan dipahami.

Karena setelah barangnya selesai dibuat, kalimat “nggak jadi, Kak” bisa berubah menjadi kerugian yang sepenuhnya harus kita tanggung.

Leave a Reply

© 2018 - Loops.id