Bundling Kelihatan Laris, tapi Untungnya ke Mana?

Bundling Kelihatan Laris, tapi Untungnya ke Mana?

Paket bundling sering terlihat seperti strategi yang menguntungkan semua pihak.

Customer mendapatkan beberapa produk dengan harga yang terasa lebih hemat. Bisnis bisa meningkatkan nilai transaksi sekaligus mengeluarkan lebih banyak produk dalam satu pesanan.

Setelah bundling diluncurkan, jumlah paket yang terjual naik. Produk yang keluar dari gudang juga lebih banyak.

Namun, ketika laporan keuangan diperiksa, keuntungannya tidak sebesar yang dibayangkan.

Bahkan, ada bisnis yang omzetnya naik setelah membuat bundling, tetapi uang yang tersisa justru makin sedikit.

Masalahnya bukan selalu karena bundling tidak laku. Bisa jadi paketnya memang laris, tetapi perhitungannya tidak sehat.

Nilai Transaksi Naik Belum Tentu Laba Ikut Naik

Bundling biasanya dibuat dengan menggabungkan beberapa produk dan memberikan harga khusus.

Misalnya, customer membeli tiga produk dengan harga yang lebih rendah dibandingkan membeli semuanya secara terpisah.

Dari sisi penjualan, hasilnya terlihat bagus:

– Customer membeli lebih banyak produk.
– Nilai transaksi menjadi lebih tinggi.
– Stok keluar lebih cepat.
– Penawaran terlihat lebih menarik.
– Omzet bertambah.

Namun, nilai transaksi hanya menunjukkan berapa uang yang dibayarkan customer. Angka tersebut belum menunjukkan berapa keuntungan yang benar-benar disimpan bisnis.

Di balik satu paket bundling, ada beberapa biaya yang harus diperhitungkan:

– HPP setiap produk.
– Biaya kemasan.
– Berat dan volume pengiriman.
– Biaya iklan.
– Biaya platform.
– Biaya pembayaran.
– Komisi penjualan.
– Subsidi ongkir.
– Bonus tambahan.
– Risiko retur.
– Biaya operasional.

Kalau semua biaya tersebut tidak dimasukkan, paket bundling bisa terlihat menguntungkan padahal marginnya sangat tipis.

Produk yang Keluar Lebih Banyak Berarti HPP Ikut Bertambah

Kesalahan paling umum adalah hanya melihat selisih antara harga normal dan harga bundling.

Contohnya, tiga produk biasanya dijual terpisah dengan total harga tertentu. Kemudian ketiganya ditawarkan dalam satu paket dengan potongan harga.

Potongannya mungkin terlihat kecil. Namun, produk yang keluar tetap tiga.

Artinya, bisnis harus menanggung HPP dari seluruh produk tersebut.

Kalau salah satu produk disebut sebagai bonus, biaya produknya juga tidak menghilang. Kata “gratis” hanya menjelaskan pengalaman customer. Bagi bisnis, produk bonus tetap memiliki biaya.

Karena itu, jangan menghitung keuntungan hanya dengan rumus:

Harga paket dikurangi satu produk utama.

Semua isi paket harus dimasukkan ke dalam perhitungan, termasuk bonus.

Berat Kiriman Bisa Mengubah Perhitungan

Saat beberapa produk digabungkan, berat dan volume paket biasanya bertambah.

Perubahan ini bisa menyebabkan:

– Tarif pengiriman naik.
– Paket masuk ke kategori berat berikutnya.
– Kemasan yang dibutuhkan menjadi lebih besar.
– Pelindung tambahan diperlukan.
– Biaya pengiriman antardaerah makin berbeda.
– Risiko kerusakan selama pengiriman meningkat.

Kalau bisnis memberikan gratis ongkir atau subsidi pengiriman, perubahan berat tersebut harus dihitung.

Jangan menggunakan perkiraan ongkir produk satuan untuk menghitung ongkir paket bundling.

Timbang paket dalam kondisi sudah lengkap, termasuk kardus, pelindung, bonus, dan materi promosi yang dimasukkan ke dalam kemasan.

Packing Bertambah, Biayanya Juga Bertambah

Bundling mungkin membutuhkan kemasan yang berbeda dari produk satuan.

Beberapa biaya yang sering terlupakan antara lain:

– Kardus yang lebih besar.
– Bubble wrap tambahan.
– Pembatas di dalam paket.
– Lakban.
– Label.
– Kartu ucapan.
– Tas atau kotak khusus.
– Waktu tim untuk merakit paket.

Nilai setiap komponen memang terlihat kecil. Namun, kalau dikalikan dengan banyak transaksi, dampaknya bisa terasa.

Waktu kerja juga perlu dipertimbangkan. Kalau bundling membutuhkan proses yang lebih rumit, kapasitas packing harian bisa menurun.
Order meningkat, tetapi tim membutuhkan waktu lebih lama untuk menyiapkan setiap paket.

Fee Dihitung dari Nilai Transaksi

Marketplace, penyedia pembayaran, afiliasi, dan kanal penjualan lain dapat mengenakan biaya berdasarkan nilai transaksi.

Saat nilai bundling meningkat, biaya tersebut bisa ikut meningkat.

Periksa seluruh potongan yang berlaku, seperti:

– Biaya administrasi platform.
– Biaya layanan.
– Biaya pemrosesan pembayaran.
– Komisi afiliasi.
– Komisi reseller.
– Biaya program promosi.
– Potongan voucher.
– Pajak yang relevan.

Jangan menggunakan asumsi fee dari produk satuan. Hitung berdasarkan nilai dan skema transaksi bundling yang sebenarnya.

Periksa juga siapa yang menanggung voucher atau promosi. Ada potongan yang sepenuhnya ditanggung platform, tetapi ada juga yang dibebankan sebagian atau seluruhnya kepada penjual.

Risiko Retur Bisa Menjadi Lebih Mahal

Nilai kerugian dari satu paket bundling dapat lebih besar daripada satu produk satuan.

Ketika paket dikembalikan, bisnis mungkin harus menanggung:

– Ongkir pergi.
– Ongkir pengembalian.
– Kerusakan kemasan.
– Produk yang tidak bisa dijual kembali.
– Bonus yang tidak kembali.
– Biaya pemeriksaan.
– Waktu customer service.
– Potongan dari platform.

Risiko juga meningkat apabila isi paket tidak dijelaskan dengan jelas.

Customer mungkin mengira akan menerima jumlah atau varian yang berbeda. Karena itu, tampilkan seluruh isi paket secara rinci dan hindari foto yang menimbulkan tafsir berbeda.

Hitung Laba Bersih per Paket

Sebelum bundling dijual, buat perhitungan sederhana untuk setiap paket.

Masukkan:

1. Harga yang dibayar customer.
2. HPP seluruh produk.
3. HPP bonus.
4. Biaya kemasan.
5. Biaya iklan per transaksi.
6. Fee platform dan pembayaran.
7. Komisi penjualan.
8. Subsidi ongkir.
9. Perkiraan biaya retur.
10. Biaya operasional lain yang relevan.

Setelah semua biaya dikurangi, barulah terlihat laba bersih paket tersebut.

Kemudian bandingkan dengan penjualan satuan:

– Berapa laba bersih ketika produk dijual satu per satu?
– Berapa laba bersih ketika produk dijual sebagai bundling?
– Apakah nilai transaksi yang lebih besar sebanding dengan tambahan biaya?
– Apakah bundling mempercepat perputaran stok?
– Apakah customer bundling memiliki potensi repeat order?

Bundling tidak harus menghasilkan margin persentase yang sama dengan produk satuan. Namun, penurunannya harus disadari dan memiliki tujuan yang jelas.

Jangan Asal Memasukkan Stok yang Tidak Laku

Bundling sering digunakan untuk mengeluarkan stok yang lambat bergerak.

Strategi ini tidak selalu salah. Namun, produk yang sulit terjual belum tentu menjadi lebih menarik hanya karena digabungkan dengan produk lain.

Kalau customer merasa produk tambahan tidak dibutuhkan, bundling akan terlihat seperti cara penjual memindahkan beban stok kepada mereka.

Dampaknya bisa berupa:

– Paket terasa tidak relevan.
– Harga terlihat lebih mahal.
– Customer memilih produk satuan.
– Produk utama kehilangan daya tarik.
– Kepercayaan terhadap penawaran menurun.

Produk dalam satu bundling sebaiknya saling melengkapi.

Customer harus bisa memahami alasan produk-produk tersebut dijual bersama.

Pilih Produk yang Digunakan Bersamaan

Bundling yang baik biasanya mengurangi pekerjaan customer dalam memilih.

Contohnya:

– Produk utama dengan aksesori pendukung.
– Produk perawatan dengan isi ulang.
– Peralatan dengan bahan yang dibutuhkan.
– Produk rutin dengan persediaan untuk periode tertentu.
– Beberapa varian untuk kebutuhan yang berbeda.
– Paket awal untuk customer baru.

Hubungannya harus mudah dipahami.

Kalau kita perlu menjelaskan panjang lebar mengapa dua produk dimasukkan ke dalam satu paket, mungkin keduanya tidak cukup relevan untuk dibundling.

Tentukan Tujuannya Sejak Awal

Bundling bisa digunakan untuk berbagai tujuan. Setiap tujuan membutuhkan cara evaluasi yang berbeda.

1. Menaikkan nilai transaksi
Customer yang awalnya membeli satu produk diarahkan untuk membeli paket dengan nilai lebih besar.

Dalam skenario ini, periksa apakah laba bersih per transaksi ikut meningkat.

2. Mengenalkan produk baru

Produk baru dimasukkan bersama produk yang sudah dikenal.

Tujuannya bukan sekadar mengeluarkan stok, tetapi membuat customer mencoba produk lain yang berpotensi dibeli kembali.

Perhatikan apakah customer kemudian melakukan repeat order pada produk tersebut.

3. Mempercepat perputaran stok

Bundling digunakan untuk mengurangi stok yang bergerak lambat.

Hitung berapa besar margin yang dikorbankan dan apakah strategi tersebut lebih sehat dibandingkan membiarkan stok terus tersimpan.

4. Memudahkan customer memilih

Beberapa produk disusun menjadi paket berdasarkan kebutuhan tertentu.

Tujuannya adalah mengurangi kebingungan dan mempercepat keputusan pembelian.

5. Menarik customer baru

Bundling digunakan sebagai penawaran awal.

Kalau margin paket sengaja dibuat lebih rendah, bisnis perlu mengetahui bagaimana keuntungan akan diperoleh dari pembelian berikutnya.

Tanpa tujuan yang jelas, bisnis hanya melihat jumlah paket terjual dan menganggap bundling berhasil.

Jangan Membuat Terlalu Banyak Paket

Terlalu banyak pilihan bundling bisa membuat customer bingung.

Setiap paket memiliki isi, harga, diskon, bonus, dan aturan yang berbeda. Customer akhirnya harus membandingkan terlalu banyak hal.

Daripada membantu, bundling justru menambah beban keputusan.

Mulailah dengan beberapa pilihan yang perbedaannya jelas, misalnya:

– Paket untuk mencoba.
– Paket penggunaan rutin.
– Paket dengan jumlah lebih banyak.

Pastikan customer bisa melihat:

– Isi setiap paket.
– Perbedaan manfaat.
– Perbedaan harga.
– Paket yang direkomendasikan.
– Penghematan yang benar-benar diperoleh.

Jangan hanya memberi nama paket yang terdengar menarik tanpa menjelaskan perbedaannya.

Diskon Tidak Harus Terlalu Besar

Customer membeli bundling bukan hanya karena diskon.

Mereka juga bisa tertarik karena:

– Produknya sudah dipilihkan.
– Isi paket saling melengkapi.
– Lebih praktis.
– Tidak perlu melakukan beberapa pesanan.
– Bonusnya relevan.
– Ketersediaannya terbatas.
– Paketnya cocok untuk kebutuhan tertentu.

Kalau manfaat bundling sudah kuat, bisnis tidak harus memberikan potongan harga besar.

Diskon yang terlalu agresif memang bisa menaikkan penjualan, tetapi berisiko merusak margin dan membuat harga normal terasa terlalu mahal.

Uji Bundling dalam Skala Kecil

Sebelum menyiapkan banyak stok atau kemasan khusus, uji paket kepada sebagian customer.

Perhatikan:

– Jumlah orang yang melihat penawaran.
– Berapa yang membeli.
– Paket yang paling dipilih.
– Laba bersih per transaksi.
– Biaya iklan.
– Keluhan customer.
– Kecepatan proses packing.
– Risiko kerusakan.
– Retur.
– Repeat order.

Jangan hanya melihat apakah bundling terjual.

Paket yang laris belum tentu sehat. Sebaliknya, paket yang penjualannya tidak terlalu besar bisa tetap berguna jika menghasilkan laba yang baik dan mengenalkan produk baru kepada customer yang tepat.

Evaluasi Setelah Promo Berakhir

Setelah periode bundling selesai, bandingkan hasilnya dengan kondisi normal.

Tanyakan:

– Apakah omzet naik?
– Apakah laba bersih naik?
– Apakah nilai transaksi meningkat?
– Apakah biaya iklan berubah?
– Apakah packing menjadi lebih lambat?
– Apakah tingkat retur bertambah?
– Apakah stok yang ditargetkan berhasil berkurang?
– Apakah customer membeli lagi setelah mencoba paket?

Kalau omzet naik tetapi laba bersih turun, cari penyebabnya sebelum mengulangi promo.

Bisa jadi diskonnya terlalu besar, isi paket terlalu mahal, ongkir meningkat, atau biaya promosi tidak terkendali.

Kesimpulan

Bundling bukan sekadar menggabungkan beberapa produk lalu memberikan diskon.

Setiap produk yang dimasukkan memiliki HPP. Bonus tetap membutuhkan biaya. Berat kiriman, packing, fee, iklan, dan retur juga dapat berubah.
Karena itu, keberhasilan bundling tidak cukup diukur dari jumlah order atau omzet.

Hitung laba bersih setiap paket dan bandingkan dengan penjualan satuan. Pilih produk yang saling melengkapi, tentukan tujuan bundling, lalu uji dalam skala kecil sebelum diperbesar.

Bundling yang sehat membuat customer merasa mendapatkan nilai lebih tanpa membuat bisnis kehilangan keuntungan.

Leave a Reply

© 2018 - Loops.id