Pernah mengalami biaya pengiriman naik, padahal ukuran dan berat paket terasa sama seperti biasanya?
Banyak seller langsung mengira ada kesalahan sistem. Padahal, perubahan ongkir bisa terjadi karena beberapa faktor: pembaruan tarif ekspedisi, perbedaan perhitungan volume, koreksi dimensi, atau biaya tambahan setelah paket diproses.
1. Ongkir tidak hanya dihitung dari berat aktual
Ekspedisi biasanya menggunakan dua perhitungan:
– Berat aktual, yaitu berat paket saat ditimbang.
– Berat volume, yaitu ukuran panjang, lebar, dan tinggi paket.
Rumus berat volume yang umum digunakan adalah:
Panjang × Lebar × Tinggi ÷ faktor pembagi
Jika berat volume lebih besar daripada berat aktual, biaya pengiriman dapat dihitung berdasarkan berat volume.
Jadi, paket yang hanya berbobot 400 gram tetap bisa dikenakan tarif 1 kilogram jika ukurannya cukup besar.
2. Tarif ekspedisi dapat berubah
Biaya ongkir juga bisa berubah karena adanya:
– Penyesuaian tarif dasar
– Perubahan kebijakan ekspedisi
– Perbedaan rute pengiriman
– Perubahan wilayah layanan
– Biaya tambahan untuk area tertentu
– Update tarif dari agregator logistik
Karena itu, tarif yang muncul saat membuat order belum tentu sama dengan tarif pada transaksi sebelumnya.
3. Koreksi dimensi bisa muncul setelah paket diproses
Pada beberapa kasus, ukuran paket yang dimasukkan seller berbeda dengan hasil pengukuran pihak ekspedisi.
Misalnya, seller mencatat ukuran paket 30 × 20 × 10 cm. Setelah diukur ulang, ternyata paket memiliki tonjolan, kemasan tambahan, atau dimensi yang lebih besar. Selisih tersebut dapat memicu penyesuaian biaya ongkir.
Inilah alasan seller perlu menyimpan catatan ukuran paket dan melakukan pengecekan jika ada koreksi ongkir.
4. Ongkir yang naik bisa mengurangi margin
Kenaikan ongkir terlihat kecil jika dihitung satu paket. Namun, dampaknya bisa besar jika jumlah order mencapai puluhan atau ratusan per hari.
Contohnya:
– Margin awal per paket: Rp30.000
– Kenaikan ongkir: Rp5.000
– Sisa margin: Rp25.000
Jika ada 100 paket, kenaikan Rp5.000 berarti tambahan biaya sebesar Rp500.000.
Belum termasuk biaya retur, paket gagal kirim, biaya RTS, dan ongkir pengiriman balik.
5. Cara menghitung profit seller dengan lebih aman
Jangan hanya menggunakan rumus:
Harga jual – HPP = profit
Gunakan perhitungan yang lebih lengkap:
Harga jual – HPP – ongkir aktual – fee platform – biaya iklan – biaya retur – biaya operasional = profit bersih
Dengan cara ini, seller bisa mengetahui apakah produk benar-benar menguntungkan atau hanya terlihat ramai dari sisi omzet.
Kesimpulan
Ukuran paket yang sama tidak selalu berarti biaya pengirimannya tetap sama. Perubahan tarif ekspedisi, koreksi dimensi, berat volume, biaya area, dan retur dapat memengaruhi total ongkir.
Sebelum menaikkan budget iklan atau menambah stok, periksa kembali:
– Ongkir aktual
– Berat volume
– Fee ekspedisi
– Biaya retur
– Biaya RTS
– Margin bersih per paket
Karena omzet besar belum tentu profit aman.


